Sat. Apr 13th, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Sebaiknya Anda Tahu, Beginilah Cara Mudah Tes Pendengaran Bayi Baru Lahir Tuli atau Tidak

2 min read

anda ingin mengetahui apakah indera pendengaran sang jabang bayi normal, kenali dari refleks moro-nya/foto shutterstocks/braedostock via merdeka.com

angkaberita.id – Bayi menangis saat persalinan merupakan pemandangan normal. Disebut tangisan itu juga menjadi penanda normalnya alat indera di jabang bayi. Lalu bagaimana mengetahui soal pendengaran bayi baru lahir normal atau tidak?

Pada bayi yang baru lahir, orangtua bisa mengetes dan mengobservasi pendengaran yang mereka miliki. Untuk mengetes hal ini, caranya adalah dengan melihat refleks bayi ketika mendengar suara keras yang disebut refleks moro.

Seperti dilansir laman situs merdeka.com, Sabtu (30/3/2019) refleks moro itu kalau bayi tidak memakai bedong, tangannya seperti mau meluk, kaget, kata Wakil Ketua Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) dr Hably Warganegara, Sp.THT-KL.

Selain itu, bayi juga menunjukkan tanda lain ketika mendengar suara keras yakni auropalpebra atau mengedipkan mata, mengerutkan wajah, berhenti menyusu atau mengisap lebih cepat, bernapas lebih cepat, dan ritme jantung bertambah cepat.

Jangan dites di depan bayi tapi di belakang bayi, biasanya kalau bayi mendengar klakson atau tepuk tangan dari belakang bayi, biasanya dia menunjukkan refleks.

Nah kalau refleksnya tidak ada, segera kontrol ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa, kata Hably seperti dikutip rilis Sehat Negeriku,. Bila dokter di fasilitas kesehatan mengatakan adanya gangguan pendengaran,

maka akan segera dicegah dan dikendalikan terutama pada bayi yang tuli sejak lahir atau tuli kongenital. Kondisi ini terjadi karena riwayat hamil, riwayat lahir, atau infeksi.

Tuli kongenital paling bahaya, jika tidak ditolong kemungkinan terjadi gangguan perkembangan kognitif, psikologi, dan sosial, kata Hably saat temu media di Gedung Kemenkes, Jakarta.

Gangguan perkembangan kognitif, psikologi, dan sosial itu akan mengakibatnya terjadi gangguan proses bicara, perkembangan kemampuan berbahasa, komunikasi, proses belajar dan perkembangan kepandaian. (*)

Bagikan