Sat. Aug 15th, 2020

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Perubahan Iklim Global, Picu Kematian Bayi dan Kasus Stunting

3 min read
perubahan iklim global tak bisa diremehkan. laporan WHO, perubahan iklim global membahayakan kesehatan anak-anak, bahkan memicu kematian dan kasus stunting/foto lampost.co

Perubahan Iklim Global, Picu Kematian Bayi dan Kasus Stunting

angkaberita.id – Tak hanya memicu kematian, perubahan iklim global juga mengakibatkan bahaya kesehatan, terutama anak-anak. Kasus stunting bakal mengancam bayi lahir seiring terjadinya cuaca ektrem di sekujur bumi.

Selain stunting, kasus gizi buruk dan rendahnya IQ diprediksi juga mengintai anak-anak dalam beberapa dekade mendatang. Sebagian kondisi itu telah terjadi di anak-anak di kawasan Pasifik.

Laporan berjudul From Townsville to Tuvalu produksu Universitas Monash di Melbourne, Australia mengungkapkan temuan itu. Berdasar riset mereka terhadap 120 artikel jurnal sebagian besar mengungkap terjadinya risiko kesehatan akibat perubahan iklim di Australia dan kawasan Pasifik.

Laporan riset itu juga merujuk laporan resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2018. Dalam laporannya, WHO memprediksi antara tahun 2030-2050 pemanasan global memicu 250.000 kematian per tahun. Terutama akibat kepanasan, gizi buruk, diare dan malaria.

Misha Coleman, seorang di antara penulis laporan WHO, itu bahkan menyebut kasus kematian akibat kepanasan suhu ekstrem telah terjadi. “Kasus kematian akibat perubahan iklim terjadi, akibat kondisi panas,” katanya.

perubahan iklim global menebarkan ancaman seperti kekeriangan, kelaparan, gagal panen dan banjir bandang di berbagai belahan dunia/foto via kumparan.com

(Baca: Perubahan Iklim Global, Gizi Buruk Mengancam Penduduk Bumi)

(Baca: Kenapa Popok Hantui Lautan Indonesia? Inilah Fakta di Baliknya)

(Baca: Jepang-Amerika Pengekspor Sampah Plastik Terbesar, Inilah Cara Malaysia-Filipina Melawan)

Dia lantas mencontohkan kasus kebakaran hutan di Victoria tahun 2009, yang dikenal di Australia sebagai Black Saturday Fires, sejumlah warga diketahui tewas akibat kebakaran itu.

Namun menurutnya, 400 kasus kematian berikutnya terjadi akibat cuaca panas di lokasi selepas kebakaran dahsyat itu. “Kepanasan dan gelombang panas,” jelasnya.

Laporan Jurnal Nature pada tahun 2017 bahkan mempekirakan pada tahun 21000, 75 persen penduduk bumi terancam suhu panas ekstrem. Bahkan, cuaca panas ekstrem itu sudah sampai taraf mengakibatkan kematian.

Selain suhu panas ekstrem, laporan itu juga menyebut ancaman fatal cuaca ekstrem seperti badai, banjir dan kebakaran. Semua itu, lanjut laporan itu, merupakan akibat turunan dari perubahan iklim global.

“Banjir, terutama di kawasan permukiman liar mengakibaykan serangan diare, ini kasus serius dan membahayakan, terutama bagi anak-anak,” kata John Thwaites, Ketua Institut Pembangunan Berkelanjutan di Universitas Monash, Australia.

Naiknya suhu global, menurutnya, juga membuat wilayah nyamuk pemicu serangan malaria meluas. Nyamuk sendiri, selain malaria juga merupakan vektor virus penyebab penyakit seperti demam chikungunya dan zika.

Penyakit virus itu dikhawatirkan menyebar ke daratan Australia, termasuk penyakit lain seperti Virus Nipah yang menyebar lewat kelelawar dan Demam Q.

Keduanya terdeteksi di kawasan Townsville. “Demam Q ditularkan hewan piaran dan liar,” ungkap Coleman. Perubahan iklim mengakibatkan habitat merek kekeringan atau terbakar, sehingga mereka eksodus mencari sumber air dan lokasi pepohonan teduh. Itu artinya invasi ke kawasan peristirahatan sekitar.

Invasi Babi Hutan

seorang petugas dinas terkait di barcelona tengah menghalau kawanan babi hutan di kawasan perkotaan. benua eropa tengah diinvasi kawanan babi hutan akibat kerusakan habitat di alam/foto SEFaS/Ajutament de Barcelona via theguardian.com

Rusaknya habitat akibat perubahan iklim global, tak hanya memicu nyamuk mengamuk. Hewan piaran menjadi liar, namun juga memaksa binatang liar keluar persembunyian menginvasi kawasan permukiman.

Terbaru kasus babi hutan dikabarkan meresahkan sejumlah kota besar di sekujur Eropa, seperti Roma, Barcelona dan sejumlah kota kawasan wisata lainnya. (*)

Baca Selengkapnya di The Guardian Online Dengan Judul Climate crisis already causing deaths and childhood stunting, report reveals

Bagikan