Mon. Apr 22nd, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Mengintip Google Hijau, Sukses Berkat Tanam Pohon. Bantu Hijaukan Hutan Indonesia

3 min read

ecosia, si google hijau dari jerman. keuntungan usahanya disumbangkan demi melawan perubahan iklim global dengan menanam pohon, termasuk menghijaukan hutan di indonesia/foto Gordon Welters/ DER SPIEGEL via spiegel.de

Mengintip Google Hijau, Sukses Berkat Tanam Pohon. Bantu Hijaukan Hutan Indonesia

angkaberita.id– Berbeda dengan Amerika Serikat, isu perubahan iklim global di Jerman mendapatkan perhatian khusus warganya. Tak heran, Partai Hijau (Die Gruene) naik daun di kalangan kelas menengah dan terpelajar di Jerman.

Bahkan, tren dukungan ke Partai Hijau terus meningkat, seiring kesuksesannya memenangi Pemilu Eropa dan pemilu sejumlah negara bagian di Jerman baru-baru ini.

Secara khusus, Majalah Der Spiegel mengangkatnya dalam laporan utamanya, terutama kesiapan partai ini menyikapi banjir dukungan elektoral.

Sebagai bukti menguatnya dukungan terhadap isu lingkungan ialah kesuksesan Ecosia, usaha start up teknologi di Jerman khusus menyediakan layanan mesin pencari di internet.

Google versi Jerman ini, merebut hati pelanggan Jermannya dengan strategi menginvestasikan keuntungan usaha ke lingkungan: Tanam Pohon! Hasilnya luar biasa.

Ecosia laris manis, bisnisnya bertumbuh. Publik kemudian menjulukinya Google Hijau berkat kepedulian lingkungan itu. Apa itu Ecosia? Majalan Der Spiegel menulis, usaha mesin pencari internet ini berlokasi di Berlin dan memiliki cara unik namun cerdas mengembangkan usahanya.

(Baca: Cuaca Ekstrem Global: Indonesia-Singapura Senasib, Kering, Panas dan Ekstrem!)

(Baca: Anda Hendak Tinggal Sementara di Berlin? Ini Tarif Sewa Hunian Rata-ratanya)

Setiap 45 ketikan di mesin pencari, Ecosia menyisihkan keuntungan dari setiap ketikan tadi menjadi benih tanaman siap tandur di sekujur dunia. Alasan utamanya mengurangi kandungan gas karbondioksida di atmosfer, gas pemicu rumah kaca ini merupakan satu dari sekian biang perubahan iklim global.

Tak disangka, strategi itu mendapatkan tempat di hati penggunananya. Berlokasi di Neukoelln di Berlin, kantor Ecosia tak menggambarkan bisnis tengah naik daun. Penampakannya sederhana, namun menghadirkan suasana kenyamanan.

Christian Kroll (35), pendiri sekaligus bos Ecosia sebaya dengan Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Keduanya juga memiliki kemiripan: Tak ingin disibukkan waktunya dengan urusan baju, alias setiap hari berkantor dengan pakaian yang sama.

Kaus putih dari kapas organik, bedan dengan kaus favorit Zuckerberg, kaus abu-abu. Selebihnya kedunya mirip. Selain strategi laba bisnis buat tanam pohon, Kroll mengembangkan usahanya seperti biasa.

Namun usaha mesin pencari internet dalam banyak bahasa berbeda ini mendatangkan duit hingga dua digit juta, tak sebanding dengan pajak kewajibannya. Ecosia dikenakan pajak usaha lokal.

Tujuan utamanya menyediakan mesin pencari bukanlah memudahkan pengguna mencari atau menemukan sesuatu secara online, sebaliknya dia ingin menjadikan usahanya punya kontribusi bagi lingkungan dan perubahan sosial.

Mesin pencari menurutnya, hanyalah saran ke situ. Baginya, tak heran, bonus kemudian pendapatan dan sebagainya menjadi hak publik. “Saya ingin membawa perubahasan sosial,” katanya. Dan, seiring waktu, itu benar-benar meniscaya.

Ecosia baginya ialah soal tanaman. Ia ingin menyelamatkan dengan menanam pohon baru dan seterusnya demi lingkungan. Pendekatan bisnis Kroll sederhana, namun hasilnya lebih dari sederhana. Penghijauan hutan di tanah air, selain di Brazil, Ethiopia dan Burkina Faso merupakan bukti kepeduliannya atas paru-paru dunia dan perubahan iklim.

Desember nanti, Ecosia genap berusia 10 tahun. Kroll, sang pendiri lahir di Wittenberg, di Saxony Anhalt, bekas Jerman Timur. Dia hijrah ke Berlin saat berusia paruh 20-an, bersama saudarinya, dan mencoboa merealisasikan mimpin menjadikan mesin pencari ramah lingkungan. Saat itu, strategi bisnisnya belum menampakkan hasil. (*)

Baca Selengkapnya di Der Spiegel Online Dengan Judul: Berlin Search Engine Uses Profits to Plant Trees

Bagikan