Sat. Apr 13th, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Lama Menunggu, Presiden Brazil Batalkan Pertemuan Dengan Presiden China

2 min read

presiden brazil jair bolsonaro (tengah) berfoto bersama presiden argentina, mauricio macri di sela-sela KTT G-20 di Osaka, Jepang/foto AFP via scmp.com

Lama Menunggu, Presiden Brazil Batalkan Pertemuan Dengan Presiden China

angkaberita.id – Presiden Brazil menunjukkan sikap kerasnya kepada China, meskipun berupa pembatalan pertemuan bilateral. Lantaran meleset dari jadwal, delegasi Brazil memilih berkemas dan bertolak ke bandara.

Presiden Brazil, Jair Bolsonaro membatalkan pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping, Sabtu (29/6/2019), di sela-sela KTT G-20 di Osaka, Jepang, meskipun delegasi Brazil telah berada di lokasi pertemuan. Keterlambatan pertemuan bilateral di KTT, semisal meleset dari jadwal, bukannya tabu.

presiden rusia, vladimir putin/foto
Alexei Nikolsky, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP viawashingtonexaminer.com

Presiden Rusia, Vladimir Putin semisal, dikenal sering ngaret sehingga pertemuan terpaksa molor dari jadwal semula. Namun tak lazim bagi pemimpin negara membatalkan pertemuan itu.

Seperti dilansir laman South China Morning Post, Minggu (30/6/2019) mengutip Bloomberg, sedianya pertemuan dijadwalkan pukul 2.30 siang waktu setempat, namun pada pukul 2.55 siang, setelah 25 menit menunggu, Pejabat Brazil mengabarkan pembatalan pertemuan ke media.

Pihak Brazil berdalih pembatalan lantaran rombongan harus berkemas dan memastikan tidak terlambat jadwal penerbangan Presiden Brazil selanjutnya. “Presiden membatalkan pertemuan,” kata Otavio Rego Barros, Jubir Presiden Bolsonaro. “Kami sudah menunggu di ruang pertemuan,” kilahnya.

Di mata analis politik Brazil, sikap ini terlalu berisiko dan bakal memantik ketersinggungan China. Apalagi China merupakan mitra dagang utama Brazil sekaligus pembeli terbesar produk-produk andalan negara perekonomian terbesar di Amerika Latin itu.

“Besar risikonya,” ujar Mauricio Santoro, Guru Besar Ilmu Politik di Universitas Rio de Janeironya menyebut langkah Bolsonaro membatalkan pertemuan itu. Menurutnya, tak sulit buat China membuat kerjasama ekonomi menjadi tekanan politis bagi Bolsonaro.

Apalagi ekspor ke China mengandalkan sejumlah kecil produk unggulan saja, seperti kedelai, minyak dan biji besi. Dosen yang mengajar hubungan internasional, termasuk hubungan dengan China di universitas, itu juga menilai Bolsonaro tengah memposisikan dirinya seperti Donald Trump, yakni perunding yang tegas.

presiden china, xi jinping bertemua dengan presiden amerika serikat, donald trump di KTT G-20 di Osaka, Jepang/foto thomas peter/pool/getty images via newsweek.com

Dalam sejumlah kesempatan, Bolsonaro juga membanggakan kedekatannya dengan penguasa Gedung Putih itu. Padahal, Bolsonaro pada Oktober mendatang bakal berkunjung ke China.

Seperti diketahui, China merupakan investor besar di Brazil seiring kebijakan privatisasi dan kemudahan modal asing masuk demi menggenjot pertumbuhan ekonomi.

Kendati Bolsonaro dalam kampanyenya lalu selalu menyeru bakal mengurangi ketergantungan kepada China, pemerintahannya juga telah mulai membatasi kemudahan itu.

“China dapat membeli di Brazil, namun mereka tidak bisa membeli Brazil,” koar Bolsonaro kepada pers pada bulan April silam. Namun pendapat berbeda terlontar dari Hamilton Mourao, Wakil Presiden Brazil pada bulan Mei silam. Katanya, kebijakan pragmatis diperlukan Brazil demi kesehatan perekonomian negara. (*)

Bagikan