Fri. Jul 19th, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Petugas Pemilu Meninggal Dunia, Sebelum Ajal Almarhum Sempat Pegangi Kotak Suara

4 min read

berdasar data hingga Kamis (25/4/2019) KPU menyatakan ada 144 petugas pemilu meninggal dunia usai bertugas, termasuk KPPS di TPS Pisangan, Jakarta. Foto ilustrasi kotak suara saat pemungutan suara ulang di Ciputat, Jakarta/foto Merdeka.com/Arie Basuki

angkaberita.id – Kisah duka menyertai hajatan Pemilu 2019 pada 17 April lalu. Ratusan petugas pemilu meninggal dunia. Sebagian besar diduga lantaran terkena serangan jantung akibat keletihan. Termasuk yang dialami Rudi M Prabowo, petugas pemilu di Pisangan Baru, Jakarta Timur.

Suasana duka masih membekap rumah keluarga. Raut duka juga masih terpancar di wajah sanak saudara. Secercah rindu terungkap dari mulut sang istri. Handai taulan dan tetangga juga masih berdatangan, bertakziah ikut berbela sungkawa.

Inez (23), anak perempuan almarhum seperti ditulis laman situs merdeka.com, Kamis (24/4/2019) mengatakan, sang ayah meninggal lima hari lalu usai pemungutan suara.

Sebelum mengembuskan nafas terakhir, ayahnya terlihat pucat dan sempat memegangi kotak suara sebelum limbung kondisinya.

“Saat papa saya sedang menghitung surat suara C1, dia pegangan kotak suara karena limbung, lalu minta digantikan sebentar. Saat nengok ke saya, wajahnya sudah pucat,” katanya seperti dilansir dari Antara, Rabu (23/4/2019).

Kesaksian menjelang waktu-waktu kepergian suami, dikisahkan istrinya, Sukaesih (58). Dia mengatakan, suaminya selama ini tidak memiliki riwayat sakit dan dalam keadaan sehat, sebelum menjalankan tugasnya sebagai Ketua KPPS.

Tetapi, dia mengungkapkan, suaminya mulai mengeluh pusing setelah pemungutan suara berlangsung. Dan keluhan itu terus terjadi selama beberapa hari hingga akhirnya muntah-muntah kemudian mengembuskan napas terakhir pada 22 April 2019 pukul 13.30 WIB.

Lima hari setelah bertugas sebagai Ketua KPPS, suaminya berpulang kepada Sang Khalik untuk selamanya. Meski sudah tidak ada pergerakan pada denyut jantung suaminya, Sukaesih tetap membawa dia ke RSPAD di Matraman, Jakarta Timur,

dengan harapan suaminya masih bisa tertolong. Setiba di rumah sakit tentara itu, dokter berusaha membantu dengan memberikan bantuan pernapasan.

Namun, almarhum sudah tidak dapat diselamatkan. Diagnosis dokter menyebutkan, Prabowo terkena serangan jantung akibat kelelahan. Sukaesih mengatakan beberapa hari sebelum pencoblosan, suaminya sering pulang malam karena disibukkan dengan banyak tugas yang berkaitan dengan persiapan Pemilu 2019.

Satu hari sebelum hingga saat pencoblosan, suaminya bahkan baru beristirahat pada pukul 02.00 WIB dini hari dan bangun pukul 05.00 WIB untuk segera menyiapkan acara pemungutan suara.

Pada saat pencoblosan, Prabowo bahkan bekerja dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB keesokan harinya karena panjang rangkaian acara mulai dari persiapan, pemungutan suara, penghitungan suara hingga penyerahan kotak suara ke kecamatan

karena jadwal yang padat dan beban kerja yang terlalu berat, suaminya bahkan baru makan pada pukul 14.00 WIB dan melewatkan beberapa kali jam makan berikutnya sampai keesokan harinya.

Meski jarak rumahnya dengan TPS tidak lebih dari 100 meter, tetapi suaminya tidak bolak-balik pulang dan bersikukuh untuk terus menjaga kotak suara di bawah kursi tempatnya duduk agar tidak terjadi kemungkinan kecurangan.

Sembari berkisah, Sukaesih berkali-kali menyayangkan kejadian yang menyebabkan suaminya meninggal. Pandangannya menerawang ke sebuah peristiwa yang membuat dia semakin rindu kepada suami yang belum lama meninggalkannya.

Saat ketika dia minta dijemput dan suaminya dengan cepat menjemputnya. Inez, juga beberapa kali memperlihatkan foto ayahnya karena merasa kehilangan seseorang yang sangat berarti dan menjadi sandaran hidup keluarganya.

Sukaesih menyayangkan Pilpres dan Pileg 2019 yang dilaksanakan secara serentak tahun ini, sehingga menambah beban kerja panitia sampai beberapa kali lipat.

Dari sisi pelaksanaan, setiap pemilih di DKI Jakarta akan membawa empat lembar surat suara, yaitu untuk memilih presiden-wakil presiden, anggota DPD, anggota DPR, dan anggota DPRD.

Diperkirakan seorang pemilih memerlukan waktu sampai lima menit untuk menyelesaikan hak dan aspirasi politiknya. Jika satu TPS melayani sekitar 280 pemilih, maka diperlukan waktu lebih dari enam jam untuk menyelesaikan semua pencoblosan itu.

Bagi pemilih, masalah selesai sampai di situ saja dan mereka bisa pulang. Sebaliknya untuk petugas dan anggota KPPS/PPS, masih dilanjutkan dengan tabulasi dan penghitungan suara,

mengisi formulir-formulir, mencocokkan hasil penghitungan di semua “kategori”, sampai akhirnya mengantarkan semua dokumen negara itu ke panitia pemilu di tingkat kecamatan.

Kedengarannya sederhana dan mudah, namun pada praktiknya mereka harus antre sedemikian rupa di tingkat selanjutnya.

Sangat melelahkan dan bisa menimbulkan stres, karena semua proses itu harus dilalui sehati-hati mungkin dan secermat mungkin dalam mekanisme pemilu yang lebih rumit ketimbang yang selama ini dilaksanakan.

Walhasil, berdasarkan laporan KPU, jumlah anggota KPPS/PPS yang meninggal dunia pada saat proses rekapitulasi hasil Pemilu 2019 saat ini tercatat sebanyak 119 orang dengan 548 yang lain menderita sakit.

Ia berharap pemerintah tidak mengulang pemilu serentak sehingga memakan korban lebih banyak. Sukaesih yang ditinggal suaminya saat menunaikan tugas negara itu, mengenang suaminya.

Ia meminta agar pemerintah lebih memperhatikan beberapa hal menyangkut pelaksanaan pemilu di kemudian hari. Dia bilang, pada Pemilu 2019 yang serentak dilaksanakan untuk memilih presiden-wakil presiden dan anggota perwakilan rakyat ini,

honor yang diterima petugas KPPS/PPS tidak seberapa tetapi tugasnya sangat berat yang bisa berujung pada kehilangan nyawa karena kelelahan. (*)

Bagikan