Tue. Apr 23rd, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Anies-Kalla Atau SBY-Airlangga (Duet Imajiner) Di Pilpres 2024?

3 min read

anies baswedan-jusuf kalla/foto via detikcom

Anies-Kalla Atau SBY-Airlangga (Duet Imajiner) Di Pilpres 2024?

angkaberita.id - Setelah PDIP mengumumkan Ganjar Pranowo jagoan mereka di Pilpres 2024, Golkar langsung menjajaki komunikasi dengan Demokrat. Anies-Kalla atau SBY-Airlangga lawan sepadan Ganjar dan Prabowo?

Amien Rais, sesepuh Partai Ummat mengusulkan wakil Anies Baswedan idealnya tokoh dari Indonesia Timur. Dia mencontohkan sukses SBY-Kalla melawan Megawati-Hasyim Muzadi di Pilpres 2004.

"Wakilnya menurut perhitungan rasional sebaiknya tokoh dari Indonesia Timur," usul Amien, seperti dikutip CNN Indonesia, Sabtu (29/4/2023). Apalagi sekarang, lanjut Amien, terlihat kecenderungan kontestasi Pilpres 2024 beraroma Jawa sentris.

Anies dan Ganjar, keduanya kelahiran Jawa Barat dan Jawa Tengah. Belum lagi, Pilpres juga urusan dunia. "(Sehingga) kan bisa dirembug bareng-bareng," pesan Amien kepada koalisi pengusung Anies, yakni trio Nasdem, Demokrat dan PKS.

Skenario Anies-Kalla, untuk sebagian, bukan mustahil. Kalla menjadi buhul penetral tarik ulur Cawapres koalisi ketiganya. Kalla juga dapat menjadi kompromi bagi SBY dan Surya Paloh. Seperti diketahui, meski berkoalisi mendukung Anies, Demokrat dan Nasdem terlibat perang dingin di publik.

Pemicunya urusan nama pendamping Anies. Nasdem ingin nama di luar ketiga parpol koalisi Anies, dan mendorong tokoh dari Jawa Timur berlatar belakang NU. Sedangkan Demokrat, meski tak langsung, menyodorkan AHY sebagai konsesi dukungan kelak ke Pilpres 2024.

Nah, majunya Kalla, bukan hanya mengamini usulan Amien Rais, tapi juga menjadi "gencatan senjata" Nasdem dan Demokrat, dengan konsesi kursi di kabinet kelak. Kalla juga tokoh NU. Paloh merupakan kongsinya saat melawan Aburizal Bakrie di perebutan kursi Ketum Golkar.

Pembeda Kalla lainnya, untuk sebagian, tentu saja dia pernah menjadi bagian pemerintahan Jokowi, meskipun kalah pamor dengan Menko Luhut Panjaitan. Bahkan, dia merupakan elemen terpenting sukses Anies melenggang di Pilgub Jakarta 2017. Bisa dikata, secara politis, koalisi Kalla lawan seimbang kongsi Jokowi-Mega.

Airlangga-SBY Empat Mata

Terbaru, setelah PPP resmi mengusung Ganjar ke Pilpres 2024, pengaruh Airlangga Hartarto Ketum Golkar di Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) berangsur memudar. Apalagi jika kelak PAN ternyata berubah haluan. Sebab, lewat Ketum masing-masing, sepakat mengusung kader internal parpol anggota koalisi di Pilpres kelak, meskipun banyak kalangan meragukannya.

Dengan bergabungnya PPP ke koalisi PDIP, daya tawar KIB berangsur melemah di mata Prabowo dan Ganjar. Pertama, PDIP satu-satunya Parpol berhak mengusung Capres tanpa perlu koalisi. Kedua, Gerindra dan PKB kian solid memanaskan mesin Koalisi Indonesia Raya (KIR) mengusung Prabowo Capres 2024, setelah Prabowo-Cak Imin bertemu.

Kini, pilihan Golkar, dan untuk sebagian PAN, tinggal ke Koalisi Anies atau membuat koalisi baru. Sebab, jika mereka ke PDIP atau Gerindra, secara politis, tidak menaikkan daya tawar Airlangga, khusus ke kursi Cawapres. Sebab, besar kemungkinan, Ganjar dengan melihat rekam jejak PDIP selama Pilpres di Tanah Air, mereka cenderung berkongsi dengan NU.

Mahfud MD merupakan representasi paling masuk akal sekaligus, bukan tak mungkin, kompromi Mega dan Jokowi. Sebab, di Pilpres 2019, Jokowi disebut sudah sreg berduet dengan Mahfud MD, sebelum PDIP kabarnya di injury time menawarkan KH Makhruf Amin. Terbukti, duet tadi mengalahkan Prabowo-Sandi.

Nah, PDIP dapat mengobati luka politik tadi dengan menjadikan Mahfud sekondan Ganjar. Meskipun dua nama berpeluang menjadi kuda hitam, yakni Erick Thohir dan Sandiaga Uno. Dengan skenario Ganjar-Mahfud, PDIP-PPP sejatinya tak butuh Golkar. Begitu juga dengan merapat ke Gerindra.

Golkar juga hanya menjadi parpol pelengkap koalisi. Sebab, Gerindra-PKB telah cukup presidential threshold. Calon pendampingnya juga tak jauh dari tiga nama menguat selama ini. Yakni, Mahfud MD, Sandiaga Uno dan Erick Thohir. Bedanya, jika Prabowo-Sandi kembali berduet, petanya tak bergeser jauh dari Pilpres 2019.

Dengan skenario itu, harapan terakhir Golkar ke Koalisi Anies. Skenarionya Demokrat, PKS tanpa Nasdem, atau Nasdem, PKS tanpa Demokrat, dengan Golkar menjadi simpul presidential threshold-nya. Dengan Kalla menjadi pendamping Anies, ketiganya dapat berbagi kursi strategis di kabinet. Skenario lainnya, Golkar-PAN dengan Demokrat, mengusung SBY-Airlangga. Mungkinkah?

(*)

Bagikan