Wed. Dec 7th, 2022

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Ekonomi Singapura Mulai Mules, Resesi Batam Datang Lebih Cepat?

2 min read

suasana pelabuhan internasional batam center lokasi berlabuh kapal feri singapura-batam pergi pulang/foto via okezone.com

Ekonomi Singapura Mulai Mules, Resesi Batam Datang Lebih Cepat?

angkaberita.id - Sudah menjadi rahasia umum, perekonomian Kepri, terutama Batam, mengandalkan Singapura. Selain pariwisata, industri manufaktur juga banyak ekspor lewat Negeri Singa. Kabar buruknya, perekonomian Singapura diprediksi terus melambat hingga tahun depan.

Peringatan tadi menyusul terus melemahkan pasar ekspor utama mereka, seperti ke Amerika Serikat, Uni Eropa dan China. Pada saat sama, mereka dihadapkan kenaikan suku bunga perbankan dan hambatan akibat perang di Ukraina. Tahun 2022, Kemendag Singapura memperkirakan pertumbuhan ekonomi 3,5 persen.

Namun, tahun depan, ekonomi akan turun 0,5 persen menjadi 2,5 persen. "Prospek permintaan eksternal Singapura semakin melemah, serta China terus bergulat dengan wabah COVID-19, dan penuruan pasar properti," beber Kemendag, seperti dikutip CNBC Indonesia, Rabu (23/11/2022).

Kemendag juga memprediksi gangguan pasokan global akan berlanjut ke 2023 akibat perang di Ukraina. Situasi perekonomian kian pesimis lantaran inflasi terus membandel di Singapura, meskipun telah turun dari rekor tertinggi dalam 14 tahun terakhir.

Terbaru, per Oktober, inflasi Singapura tahunan 6,7 persen, turun dibanding setahun lalu sebesar 7,5 persen. Meskipun melandai, inflasi diproyeksikan tetap tinggi hingga beberapa kuartal ke depan.

"Inflasi Inti akan tetap tinggi," tulis Otoritas Moneter Singapura dalam proyeksinya. Harga komoditas energi dan pangan tetap akn tinggi, meskipun telah melewati puncaknya.

Terpisah, Kadin Kepri beberapa waktu lalu mendorong kepala daerah (KDH) di Kepri duduk bersama merundingkan ancaman resesi. Sebab, jika tak terantisipasi secara cepat berpeluang melahirkan PHK menyusul pelemahan permintaan produksi, terutama sektor manufaktur di Batam. Belum lagi tekanan pengangguran dan inflasi di Kepri tinggi.

(*)

Bagikan