Mon. Oct 25th, 2021

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Kepri Terkesan Ngotot, Kenapa Pejabat Bali Sikapi Travel Bubble Biasa Saja?

3 min read

kawasan lagoi bay menjadi satu atraksi wisata di bintan, khususnya di kawasan lagoi/foto bintantourism.com

Kepri Terkesan Ngotot, Kenapa Pejabat Bali Sikapi Travel Bubble Biasa Saja?

angkaberita.id - Per 14 Oktober 2021, pemerintah mengizinkan wisman masuk ke Bali. Namun tak semua kalangan di Bali, termasuk para pejabat menganggapnya sebagai eforia perbaikan ekonomi warga. Padahal, dibanding Kepri semisal, wisata Bali selalu laris manis kunjungan. Kenapa?

Laporan The Guardian, merekam geliat persiapan pelaku usaha di Negeri Dewata seiring kebijakan pemerintah melonggarkan wisata di Bali menyusul kesuksesan Phuket Sandbox di Thailand. Namun, tak terlihat eforia menyambut kebijakan itu. Selain belum terasa langsung dampaknya, juga diperlukan waktu lebih lama memulihkan ekonomi di Bali.

Tak hanya pelaku wisata, kalangan pemerintah juga menyebut kebijakan itu baru terasa di bulan November. Sebab, dengan sederet tetek bengek persyaratan travel bubble, tak mudah menggaet wisman langsung berdatangan, terutama pelancong dengan duit pas-pasan (backpacker). "Butuh waktu sebulan setelah dibuka pariwisata Bali. Saya yakin bulan November pasti ada kunjungan," Kadispar Bali, Putu Astawa, seperti dilansir balipost, Rabu (13/10/2021).

Kalaupun berdatangan akhirnya ke Bali, bukan mustahil, mereka kalangan wisman berduit. Hanya, di mata pelaku usaha wisata, mereka justru terbilang lebih pelit ketimbang wisman backpacker. Menko Luhut tak menampik itu. Kebijakan travel bubble di Bali memang diikhtiarkan ke wisman berduit, bukan backpacker.

Sehingga muncul kewajiban karantina mandiri dan keharusan memiliki asuransi senilai minimal Rp 1 miliar. Meski membuka wisata Bali, pemerintah tetap berkepentingan situasi pandemi terjaga. Sebab, setiap ledakan kasus massif COVID-19 berujung pengeluaran duit negara. Jalan tengahnya, meniru Singapura, boleh datang tapi bawa uang.

Kebijakan itu, untuk sebagian, tak berlebihan. Sebab, travel bubble diikhtiarkan mendatangkan devisa. Ujungnya, secara teori, menggerakkan perekonomian warga setempat. Hanya saja, Gubernur Bali agaknya tak selalu sepakat dengan teori itu. Sebab di mata Gubernur Wayan Koster, selama ini madu wisata di Bali hanya dinikmati pemilik modal.

"Selama ini pariwisata itu tidak banyak manfaatnya langsung kepada masyarakat Bali, hanya dinikmati oleh segelintir orang terutama para pemodal dari luar," tegas Wayan, seperti dikutip detikcom, Senin (11/10/2021). Pandemi katanya, menjadi kesempatan instropeksi menata ulang strategi pembangunan Bali.

Tak heran, Gubernur tengah berencana mengubah skenario perekonomian di Bali, dengan memprioritaskan sektor lainnya, seperti pertanian dan kelautan dibanding pariwisata. Kondisi berbeda justru terasa di Kepri. Sektor pariwisata dianggap menjadi skenario terbaik memulihkan perekonomian di Bumi Segantang Lada.

Pemprov Kepri lantas menyodorkan angka-angka kunjungan wisata ke Kepri, termasuk klaim kebanggaan mengalahkan DKI Jakarta dan hanya kalah dari Bali soal pariwisata. Usaha pariwisata, khususnya di Lagoi Bintan dengan hampir 5.000 pekerja menggantungkan nafkah, menjadi cara meringankan beban APBD Kepri, agar tak berantakan setelah mimpi labuh jangkar kandas tak jelas.

Klaim itu, berdasarkan data BPS, memang tak berlebihan. Bahkan, ekonomi Kepri di masa pandemi, sektor pariwisata masih menyumbang kue perekonomian di tahun 2020, meski secara umum mengalami kontraksi pertumbuhan, sebelum rebound di kuartal II 2021 berkat permintaan ekspor, terutama dari industri pengolahan di Batam.

Selain ekspor, investasi merupakan kunci pertumbuhan ekonomi, termasuk di Kepri. Nah, kabar baiknya, sektor pariwisata di Kepri masih mendatangkan pemodal berinvestasi, meskipun tak sedikit berpusat di Singapura. Ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, Gubernur Ansar berkeras menggeber sektor pariwisata di Kepri, meski situasinya pandemi.

Bahkan, dulu sebelum PPKM Kepri Level 1, dikabarkan Kepri membujuk Singapura mengizinkan warganya plesiran ke Kepri, tanpa keharusan resiprokal warga Kepri boleh masuk ke Singapura. Namun Menlu Singapura Vivian Balakrisnan menjawab. Intinya, sebelum dia bertemua Menlu Retno di Jakarta pada Maret 2021, soal kunjungan wisata kuncinya situasi pandemi sama-sama terkendali.

Alhasil, Gubernur Ansar terpaksa menunda mimpi travel bubble hingga selepas Lebaran, dan hingga dua kali tertunda, sebelum akhirnya Presiden Jokowi mengabulkan usulan travel bubble Kepri seiring PPKM Level 1 per 4 Oktober 2021. Bedanya, Kepri tetap berharap ke Singapura, meskipun COVID-19 tengah berkecamuk di Negeri Merlion itu. Gubernur Ansar bahkan menyangkal kabar penundaan travel bubble.

Kabar terakhir, Gubernur Kepri melobi Singapura mendiskresi warganya berkunjung ke Kepri. Ansar agaknya sadar, seperti data BPS Kepri, pelancong Singapura kunci menghidupkan pariwisata Kepri. Ansar agaknya berharap dengan nostalgia itu, meskipun bukan mustahil, ujungnya seperti keluhan Gubernur Bali. Apalagi sudah rahasia umum, pemodal usaha wisata di Nongsa Sensation dan Bintan Resort tak sedikit dari Singapura.

(*)

Bagikan