Thu. Jul 29th, 2021

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Ekonomi Sumatera Nyungsep, Kepri Banting Setir Ke Sektor Pertanian?

2 min read

per agustus 2020, angka pengangguran terbuka di kepri tertinggi ke-4 di tanah air, seiring nyungsepnya perekonomian kepri selama tahun 2020, khususnya di batam. sektor pertanian menjadi satu-satunya sektor ekonomi tahan banting selama pademi covid-19. arif fadillah, sekdaprov sekaligus plh gubernur kepri/foto batam.tribunnews.com

Ekonomi Sumatera Nyungsep, Kepri Banting Setir Ke Sektor Pertanian?

angkaberita.id – Kendati terjadi pandemi, pertumbuhan ekonomi wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua justru tumbuh tahun lalu. Sebaliknya, ekonomi Jawa, Sumatera, Kalimantan, serta Bali dan Nusa Tenggara terjun bebas.

Berdasarkan data BPS, seperti dilansir CNN Indonesia, ekonomi Sulawesi tumbuh 0,23 persen, Maluku da Papua tumbuh, masing-masing, 1,44 persen. Sedangkan ekonomi Sumatera minus 1,19 persen, Jawa minus 2,51 persen, Kalimantan minus 2,27 persen serta Bali dan Nusa Tenggara minus 5,01 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, ekonomi Sulawesi lolos dari jeratan pandemi terdongkrak kinerja ekonomi Sulawesi Tengah. Ekspor nikel mendorong ekonomi Sulawesi Tengah tumbuh sebesar 4,86 persen. “Jadi Sulawesi Tengah membuat pertumbuhan ekonomi Sulawesi positif, ada kenaikan produksi nikel,” ucap Suhariyanto, Kepala BPS Pusat, Jumat (5/2/2021).

Wilayah Maluku terdongkrak pertumbuhan ekonomi Maluku Utara sebesar 4,29 persen, Papua terdongkrak pertumbuhan ekonomi Papua sebesar 2,23 persen. “Papua ada kenaikan produksi tembaga,” kata Suhariyanto. Secara keseluruhan, ekonomi nasional terkontraksi akibat mayoritas komponen pengeluaran dan lapangan kerja tercatat minus.

Komponen pengeluaran, semisal, konsumsi rumah tangga tercatat minus 2,63 persen, konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) minus 4,29 persen, investasi minus 4,95 persen, ekspor minus 7,7 persen, impor minus 14,71 persen, meskipun pengeluaran pemerintah tumbuh 1,94 persen.

Sedangkan komponen lapangan usaha, terdapat 10 sektor terkontraksi. Yakni, industri pengolahan minus 2,93 persen, perdagangan minus 3,72 persen, konstruksi minus 3,26 persen, pertambangan dan penggalian minus 1,95 persen, serta transportasi dan pergudangan minus 15,04 persen.

Kemudian administrasi pemerintahan minus 0,03 persen, akomodasi dan makan minum minus 10,22 persen, jasa lainnya minus 4,1 persen, jasa perusahaan minus 5,44 persen, serta pengadaan listrik dan gas minus 2,34 persen. Meskipun, tujuh sektor lainnya tumbuh positif, seperti pengadaan air sebesar 4,94 persen.

Jasa kesehatan dan kegiatan sosial naik 11,6 persen, properti dan real estate naik 2,32 persen, dan jasa pendidikan naik 2,63 persen. Lalu jasa informasi dan komunikasi naik 10,58 persen, jasa keuangan dan asuransi naik 3,25 persen, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 1,75 persen.

Bagaimana dengan Kepri? Pemprov agaknya telah mengendus tanda-tanda itu. Terbukti, belum lama ini berjanji bakal meluncurkan kebijakan program padat karya, terutama di sektor pertanian. Namun, jika tidak terealisasi, seperti kondisi nasional, bukan hanya tergerus pendapatan per kapita, tapi juga terseret ke jurang pengangguran.

Kepri sendiri, sejak Agustus 2020 bertengger di peringkat empat nasional dengan pengangguran terbuka tertinggi di Tanah Air, seiring jebloknya pertumbuhan ekonomi selama dua triwulan terakhir tahun 2020.

(*)

Bagikan