Sat. Jan 16th, 2021

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Terdongkrak Batam, Kepri Saingi Jakarta Jadi Provinsi Termahal Di Tanah Air. Bagaimana UMP?

4 min read
pada tahun 2015, kepri merupakan provinsi terkaya di Sumatera dengan pendapatan perkapita Rp 103 juta, secara nasional berada di urutan tiga besar, hanya kalah dari DKI Jakarta dan Kalimantan Timur. Jembatan Fisabilillah menghubungkan pulau batam dengan pulau rempang/foto via id.wikipedia.org

Terdongkrak Batam, Kepri Saingi Jakarta Jadi Provinsi Termahal Di Tanah Air. Bagaimana UMP?

angkaberita.id – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis provinsi termahal di tanah air berdasarkan pengeluaran biaya kebutuhan sandang, pangan dan papan. Kepri bersama DKI Jakarta dan Kalimantan Timur menjadi tiga provinsi termahal biaya hidupnya di tanah air.

BPS mendasarkan pengukuran pada pengeluaran rata-rata per bulan per penduduk, bukan berdasarkan harga-harga barang. Sehingga, meskipun harga barang di sejumlah daerah di Provinsi Papua lebih tinggi, namun biaya hidup per kapita hanya dihitung dari pengeluaran saja.

Secara nasional, terdapat 20 provinsi dengan pengeluaran rata-rata per bulan per kapita lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar Rp 1.165.241, Provinsi NTT paling rendah pengeluaran per kapita per bulannya, yakni sebesar Rp Rp 750.693.

Seperti dilansir Kompas.com, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan biaya hidup tertinggi di tanah air. Per bulan rata-rata pengeluaran Rp 2.156.112 per orang, Kepri menyusul dengan pengeluaran per kapita per bulan sebesar Rp 1.778.150, dan mengunci di tiga besar Provinsi Kalimantan Timur sebesar Rp 1.617.640.

Saking mahalnya, data BPS menulis, biaya pengeluaran makan satu penduduk di DKI Jakarta sebanding dengan empat penduduk di NTT. Berikut ikhtisar tiga daerah dengan biaya hidup termahal di tanah air, dikutip dari laman resmi BPS, Senin (14/12/2020).

DKI Jakarta

BPS menetapkan sebagai daerah paling mahal di Tanah Air. Sebagai pusat pemerintahan dan pusat bisnis, menjadikan Jakarta provinsi terpadat, sehingga berpengaruh terhadap biaya hidup, terutama biaya kebutuhan tempat tinggal. BPS mencatat, biaya hidup per kapita per bulan sebesar Rp 2.156.112 per bulan. “Pengeluaran bukan makanan satu orang penduduk DKI Jakarta sebanding dengan empat orang penduduk NTT,” tulis BPS dalam keterangannya.

Kepulauan Riau

Setelah DKI Jakarta, Kepri termasuk daerah termahal di Tanah Air, dengan pengeluaran rata-rata per kapita per bulan sebesar Rp 1.778.150. Faktor Batam mendongkrak tingginya biaya hidup di Kepri. Batam termasuk kota paling besar biaya hidup di Tanah Air. Selain sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, Batam juga mengoleksi banyak perusahaan berskala nasional dan internasional, meskipun belakangan beberapa mulai akibat tekanan ekonomi.

Kalimantan Timur

Kalimantan Timur sudah lama dikenal provinsi kaya sekaligus paling mahal biaya hidupnya di tanah air. Data BPS, rata-rata pengeluaran per kapita penduduk gudang batubara di Tanah Air, itu paling kaya dari segi penerimaan daerah. Selain batubara, Kaltim juga memiliki tambang minyak bumi. Balikpapan termasuk kota paling mahal biaya hidup di Tanah Air. Per bulan per kapita pengeluaran sebesar Rp 1.617.640.

BPS menulis, metode pengumpulan data pengeluaran per kapita berasal dari data Susenas pada Maret 2019, mencakup 320.000 rumah tangga sampel di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota di sekujur negeri.

Response rate Susenas Maret 2019 sebesar 99,95 persen, atau 319.845 rumah tangga. Setelah pengecekan kelengkapan dan konsistensi data, jumlah sampel dinyatakan clean sebanyak 315.672 rumah tangga.

Seluruh rumah tangga sampel ditanyakan mengenai apa yang dikonsumsi seluruh anggota rumah tangga selama seminggu terakhir, baik kuantitas maupun uang yang dikeluarkanuntuk itu. Rumah tangga juga ditanyakan mengenai besarnya uang yang dikeluarkan untuk barang-barang selain makanan selama sebulan atau setahun terakhir.

Pengumpulan data dari rumah tangga terpilih dilakukan dengan cara wawancara langsung antara petugas pencacah dengan responden. Keterangan individu dikumpulkan melalui wawancara dengan individu bersangkutan.

Keterangan rumah tangga dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala rumah tangga, suami/istri kepala rumah tangga atau anggota rumah tangga yang mengetahui karakteristik yang ditanyakan. Secara nasional, rata-rata pengeluaran per kapita untuk konsumsi sebulan sebesar 1.165.241 rupiah.

Dibandingkan dengan angka tersebut, sebanyak 20 provinsi memiliki rata-rata pengeluaran yang berada di atas angka nasional. Provinsi dengan pengeluaran tertinggi yaitu Provinsi DKI Jakarta sebesar 2.156.112 rupiah sedangkan yang terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar Rp 750.693.

Persentase rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan sebesar 49,14 persen dan bukan makanan sebesar 50,86 persen. Itu secara langsung mengindikasikan secara nasional, porsi pengeluaran pangan sebesar 49,14 persen.

Kondisi porsi pengeluaran pangan kurang dari 50 persen mengindikasikan pengeluaran untuk bukan makanan penduduk Indonesia sedikit lebih besar porsinya dibandingkan untuk makanan.

Wilayah perdesaan dengan pangsa pengeluaran pangan sebesar 55,59 persen, cenderung memiliki ketahanan pangan lebih rendah dibandingkan wilayah perkotaan dengan pangsa pengeluaran pangan sebesar 45,90 persen.

Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi dengan pangsa pengeluaran pangan tertinggi, yakni sebesar 57,21 persen. Sedangkan terendah di Provinsi DKI Jakarta, sebesar 40,70 persen. Selain DKI Jakarta, secara nasional, terdapat 16 provinsi dengan pangsa pengeluaran pangan di bawah 50 persen, termasuk DI Yogyakarta, Bali, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, Gorontalo.

Lalu Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Papua Barat, Jawa Tengah, Banten, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Bengkulu, Jawa Barat, dan Kepulauan Bangka Belitung. Pada wilayah provinsi dalam pulau/ gugusan pulau sama juga masih terdapat variasi yang besar dalam pangsa pengeluaran pangan.

Di Sumatera semisal, provinsi dengan pangsa pengeluaran pangan tertinggi ialah Provinsi Aceh, sebesar 56,30 persen. Sedangkan Kepri terendah, sebesar 44,38 persen. Itu artinya, di Sumatera penduduk Kepri lebih tinggi ketahanan pangannya dibanding penduduk Aceh, meskipun bukan daerah penghasil.

Di Jawa, DKI Jakarta terendah dan Jawa Barat tertinggi pangsa pengeluaran pangan, sebesar 49,71 persen. Artinya, penduduk Jawa Barat jauh tertinggal tingkat ketahanan pangan dibanding tetangga dekatnya, DKI Jakarta.

(*)

Bagikan