Wed. May 19th, 2021

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Peta Serangan Penyakit Di Dunia, Tiga Klaster Perlu Kewaspadaan Tinggi Di Tanjungpinang

2 min read

serangan kardiovaskular masih menghantui pasien di dunia dan tanah air, kenapa?/foto via hellosehat.com

Peta Serangan Penyakit Di Dunia, Tiga Klaster Perlu Kewaspadaan Tinggi Di Tanjungpinang

angkaberita.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis data terbaru pemicu kematian terbanyak di dunia. Ketiganya, jika itu disebabkan penyakit, menyerang tiga bagian tubuh. Yakni, jantung dan pembuluh darah (cardiovascular), kemudian pernafasan (respiratory) dan kondisi habis persalinan (neonatal condition).

Nah, seperti dilansir Statista, berdasarkan tiga kriteria itu, pemicu kematian terbanyak warga dunia sejauh ini, ialah serangan jantung. Sepanjang tahun 2019, terdapat 10 sakit pemicu kematian di dunia. Bahkan, jika diakumulasi, 10 sakit itu berandil terhadap 55 persen dari 55,4 juta kematian akibat sakit di dunia.

Tujuh di antaranya, versi WHO, sebagai sakit dengan serangan mendadak. Dengan sakit akibat serangan ke jantung dan pembuluh dari tertinggi, seperti serangan jantung ischaemic dan stroke.

Kemudian serangan ke saluran pernafasan seperti paru-paru kronis, atau infeksi saluran pernafasan. Terakhir, sakit sehabis kelahiran seperti trauma persalinan, komplikasi persalinan dan sebagainya.

Kondisi itu, ternyata, tidak berubah sejak hampir 10 tahun terakhir. Data tahun 2000, serangan jantung ischaemic juga berada di puncak pemicu kematian di dunia. Tahun 2019, kontribusinya 16 dari total kematian di dunia, atau setara 8,9 juta kasus kematian.

Kondisi di tanah air, untuk sebagian, juga tidak berbeda jauh. Kasus serangan sakit di bagian pembuluh darah juga sangat dominan di Tanjungpinang. Selain hipertensi, serangan berindikasi jantung juga terjadi pada pasien rawat inap dan rawat jalan di tiga rumah sakit besar di Bumi Gurindam sepanjang 2019.

Ironisnya, tak sedikit warga Tanjungpinang memilih menahan sakitnya dibanding pergi berobat. Mereka lebih memilih mengobati sendiri sakitnya. Untuk sebagian, BPS mencatat, akibat tiadanya biaya berobat, merasa tidak perlu dan lamanya waktu mendapatkan layanan.

(*)

Bagikan