Wed. May 19th, 2021

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

COVID-19 Di Kepri: Membaca Hasil Survei BPS, Kenapa Perempuan Kunci Lawan Pandemi?

2 min read

benarkah pandemi covid-19 merupakan wabah perkotaan?/foto ilustrasi virus corona via kompas.com

COVID-19 Di Kepri: Membaca Hasil Survei BPS, Kenapa Perempuan Kunci Lawan Pandemi?

angkaberita.id – Ibarat perlombaan lari, pandemi COVID-19 bukanlah adu lari cepat (sprint) tapi lomba lari jarak jauh (maraton). Kaum perempuan, secara psikologis, menjadi kunci memenangi perlombaan (baca: pandemi) seperti itu. Kenapa?

Selain secara demografis, jumlah penduduk perempuan di Kepri terbilang tinggi, bahkan di kelompok usia tertentu lebih banyak dibanding penduduk pria, juga secara hormonal perempuan cenderung lebih ‘melawan’ COVID-19 dibanding pria. Secara psikologis, perempuan juga cenderung mengindahkan bahaya pandemi.

Setidaknya itulah hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru. Seperti dilansir Katadata, dalam hasil survei perilaku masyarakat di masa pandemi COVID-19, responden perempuan relatif lebih patuh protokol kesehatan ketimbang pria. Adapun, survei dilakukan pada 7-14 September dengan total 90.967 responden.

Dari jumlah itu, sebanyak 55,23 persen merupakan wanita dan 44,77 persen pria. Segi usia, sebanyak 27,24 persen usia muda yaitu 17-30 tahun, kemudian 41,77 persen usia 31-45 tahun. Selebihnya, 27,37 persen usia 46-60 tahun, dan 3,62 persen usia di atas 60 tahun.

Berdasarkan pendidikan, 61 persen responden berpendidikan sarjana ke atas. “Perempuan jauh lebih patuh dibandingkan laki-laki ketika menerapkan protokol 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan),” kata Kepala BPS Suhariyanto, Senin (28/9/2020).

Dari hasil survei mereka, 94,8 persen responden perempuan rutin memakai masker. Sedangkan hanya 88,5 persen pria rajin mengenakan masker. Selain itu, 83,6 persen responden perempuan rajin menggunakan hand sanitizer, lebih besar dari 70,5 persen pria memakai disinfektan.

Sebanyak 80,1 persen responden perempuan cenderung patuh mencuci tangan selama 20 detik. Sedangkan responden pria hanya 69,5 persen. Begitu juga dengan urusan berjabat tangan, data BPS sebanyak 87,2 persen responden perempuan menghindari jabat tangan demi mencegah COVID-19, pria hanya 12 persen.

Bagaimana dengan kebiasaan menjaga protokol kesehatan di keramaian? Perempuan di tanah air, sebanyak 81,2 persen cenderung menghindari kerumunan. Sebaliknya, kaum pria hanya 71,1 persen. Sehingga perempuan lebih tertib secara sosial. Pun, menjaga jarak minimal satu meter. Sebanyak 77,5 persen responden perempuan mematuhi protokol itu, pria hanya 68,7 persen.

Kenapa masih banyak ketidakpatuhan pada protokol kesehatan? Hasil survei BPS mengungkapkan jawabannya. Sebanyak 55 persen responden beranggapan tak ada sanksi alasan di balik pengabaian itu. Kemudian 39 persen menganggap wilayahnya tidak ada kasus positif sehingga tidak perlu disiplin ketat.

Sedangkan 33 persen berdalih pekerjaan menjadi sulit jika menjalankan protokol kesehatan. Tak hanya itu, 23 persen menganggap harga masker dan alat pelindung diri terlalu mahal. Ada juga, sebnayak 21 persen mengikuti orang lain, dan 19 persen pimpinan tak memberi contoh.

“Perlu sentuhan seluruh pimpinan dan aparat untuk memberikan contoh supaya masyarakat mengikuti,” kata Suhariyanto. Merespon temuan survei itu, Ketua Satgas COVID-19 Doni Monardo mengatakan, semua pihak harus terlibat dan aktif mencegah COVID-19. “Kalau kita patuh, tapi orang sekitar tak patuh cepat atau lambat akan tertular,” kata dia.

(*)

Bagikan