Sat. Jul 4th, 2020

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

COVID-19: Kasus Bertambah, Tapi Zona Risiko Rendah Cenderung Meningkat. Kenapa?

2 min read
kasus infeksi corona di tanah air terus bertambah, namun daerah zona risiko rendah juga cenderung meningkat. kenapa?/foto ilustrasi via kompas.com

COVID-19: Kasus Bertambah, Tapi Zona Risiko Rendah Cenderung Meningkat. Kenapa?

angkaberita.id – Kendati terus terjadi penambahan kasus baru, namun secara umum situasi pandemi COVID-19 di tanah air cenderung membaik. Bahkan, sejak akhir Mei 2020, tren perubahan peta zonasi risiko COVID-19 per kabupaten lebih baik dari bulan sebelumnya.

“Ada tren membaik dari kondisi kabupaten dan kota,” kata Dewi Nur Aisyah, Tim Pakar Gugus Tugas COVID-19 Pusat, seperti dikutip Tempo, Kamis (25/6/2020). Dia mengatakan, pada akhir Mei 2020 terdapat 108 kabupaten dan kota dengan risiko tinggi alias zona merah, dan 166 daerah risiko sedang (zona oranye).

Kemudian ada 46,70 persen daerah zona kuning, dan zona hijau alias tak terdampak. Per 7 Juni, kondisinya berubah. Zona kuning dan hijau sempat turun di angka 44,36 persen. Ketika itu, ada 65 daerah zona merah dan 221 zona oranye.

Namun per 14 Juni 2020, jumlah daerah zona kuning dan hijau semakin banyak mencapai 52,53 persen. Sedangkan wilayah zona merah berkurang menjadi 51 daerah dan 193 zona oranye. Pada 21 Juni 2020, zona hijau dan kuning makin bertambah mencapai 58,37 persen. Kemudian, ada 57 daerah zona merah dan 157 zona oranye.

Dewi mengatakan, sampai 21 Juni, terdapat 308 kabupaten dan kota di luar zona hijau nihil kasus meninggal akibat COVID-19. “Artinya ada 196 kabupaten kota dapat menyusul untuk bergerak menjadi zona hijau,” sebutnya.

Di Kepri, meskipun sempat terjadi penambahan kasus baru, namun secara umum tak sebanyak jumlah pasien sembuh, terutama di Batam. Tren kesembuhan di Kepri juga terus bertambah, dengan seluruh pasien dalam perawatan (PDP) secara klinis kondisinya stabil.

Dewi mengatakan, penentuan zonasi risiko berdasarkan skor setelah pembobotan dari 15 indikator, termasuk 11 indikator epidemologis, dengan skala skoring 1-100. Kian tinggi dan mendekati angka 100 berarti tidak ada kasus, dan sebaliknya.

Penambahan angka kesembuhan, menurutnya menambah pembobotan dalam penilaian penentuan zonasi risiko. “Persentase kasus sembuh untuk menghitung sudah seberapa banyak orang yang sudah terpapar COVID-19, kemudian dapat sembuh di sebuah wilayah,” kata Dewi.

Nah, semakin baik angka kesembuhannya atau mendekati angka 100 persen, kian tinggi penilaian setelah pembobotan. Tim pakar kemudian menganalisa hasil pembobotannya dan memasukkan ke matriks kategori zonasi berdasarkan warna. Yakni, risiko tinggi (merah), sedang (oranye), rendah (kuning) dan tidak ada kasus (hijau).

Sedangkan penentuan zonasi risiko disesuaikan dengan akumulasi nilai skornya. Risiko rendah, artinya mendapatkan nilai 20 persen teratas, yakni nilainya 81-100. Sedangkan risiko sedang, nilainya 61-80. Risiko tinggi penilaiannya ialah kurang dari atau sama dengan 60.

Berdasarkan data peta zonasi risiko, per 21 Juni terdapat 4 zona hijau di Kepri. Yakni Anambas, Natuna, Lingga dan, belakangan menyusul, Karimun. Tiga lainnya, yakni Bintan dan Tanjungpinang masuk zona kuning serta Batam masih zona oranye alias risiko sedang.

(*)

Bagikan