Sat. Jul 4th, 2020

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

COVID-19: Peta Risiko Pandemi Di Dunia, Indonesia Terbantu Banjir Sinar Mentari?

3 min read
selama pandemi terus bermunculan sejumlah hasil penelitian, sebagian di antara mereka saling bertolak belakang dengan pendapat WHO atau organsisasi kesehatan dunia/foto ilustrasi via sukabumiupdate.com

COVID-19: Peta Risiko Pandemi Di Dunia, Indonesia Terbantu Banjir Sinar Mentari?

angkaberita.id– Selain penelitian vaksin, selama pandemi COVID-19 di sekujur dunia juga terus bermunculan riset lain berkenaan dengan faktor di balik kondisi terkini pandemi. Termasuk pengaruh paparan sinar mentari terhadap risiko penularan virus corona.

Terbaru, Deep Knowledge Group seperti dilansir Statista merilis kondisi keamanan pandemi secara global di 200 negar. Riset berdasarkan kajian dan analisis situasi kesehatan publik, ekonomi dan sosial negara bersangkutan.

Analisis riset menggunakan pendekatan SWOT, lazimnya riset kebijakan publik, mengukur kekuatan dan kelemahan serta peluang dan tantangan. Berdasarkan riset itu, Swiss menjadi satu-satunya negara paling aman dari risiko pandemi COVID-19. Jerman menyusul di peringkat kedua.

Hasil Swiss, berdasarkan riset, sebagian berkat terus menurunnya angka infeksi dan tingkat kematian per kasus (CFR). Sehingga menjadikannya relatif kuat menghadapi risiko paska pandemi. Amerika Serikat dan Inggris, meskipun babak belur dihajar pandemi, berdasarkan riset disimpulkan berisiko sedang, yakni urutan 58 dan 68 dari 200 negara.

Pertimbangannya, meskipun tinggi laju kasus infeksi dan angka kematian, namun kapasitas sistem kesehatan publik Negeri Paman Sam diyakini masih berdaya, belum lagi kemampuan teknologi terutama buat pemantauan dan perlindungan. Negara-negara di Afrika, berdasarkan riset, diyakini paling rentan terkena dampak pandemi.

Sebagian besar akibat buruknya sistem kesehatan publik, dengan kondisi terburuk terpantau di Sudan, Rwanda, Mali dan Chad sekaligus menempatkan mereka di tubir terbawah negara berisiko pandemi dari 200 negara. Bagaimana dengan tanah air? Berdasarkan kajian itu, berada di zona oranye.

Infographic: Where The COVID-19 Risk Is Lowest And Highest | Statista You will find more infographics at Statista

Terpisah, dua ilmuwan di Amerika Serikat merilis hasil risetnya terkait potensi sinar matahari bagi pengereman infeki virus corona. Dalam risetnya, keduanya mengklaim berada di luar rumah mandi sinar mentari dapat mengurangi risiko tertular virus corona.

Hasil riset mereka, seperti dilansir CNBC Indonesia, diterbuitkan di Photochemistry and Photobiology. Jose-Luis Sagripanti dan Dave Lytle, masing-masing veteran angkatan darat dan anggota FDA, semacam BPOM-nya Amerika Serikat, mengatakan sinar mentari kuat membunuh virus corona. dalam hitungan 34 menit.

Argumentasi keduanya berfokus pada sinar ultra violet. Katanya, sinar itu dapat menghancurkan virus di berbagai kota pada waktu berbeda dalam setahun. Analisis keduanya, “sinar matahari tengah hari di sebagian besar AS dan kota-kota dunia selama musim panas’ dapat membunuh 90 persen virus corona yang hidup di permukaan hanya dalam 34 menit”.

Nah, di bulan Desember hingga Maret, mereka menyimpulkan virus corona dapat bertahan di permukaan hingga sehari lebih. “Data yang disajikan menunjukkan SARS-CoV-2 dinonaktifkan relatif lebih cepat (lebih cepat daripada influenza A) selama musim panas di banyak kota-kota padat di dunia,” tulis mereka dalam kesimpulannya.

Harusnya, klaim mereka seperti dikutip dari Mirror, Jumat (26/6/2020), sinar mentari memiliki peran mengurangi durasi pandemi COVID-19. Praktis, klaim riset mereka berbeda dengan pendapat WHO. Organisasi Kesehatan Dunia itu, sebelumnya menyatakan sinar matahir tidak mencegah penularan virus corona.

Pernyataan WHO didukung dengan kenyataan adanya laporan kasus COVID-19 di negara-negara dengan cuaca panas. WHO juga menyarankan tidak menggunakan lampu ultra violet guna mencegah penularan virus. “Lampu UV tidak boleh digunakan untuk mensterilkan tangan atau area kulit lainnya karena radiasi UV dapat menyebabkan iritasi kulit,” tulis WHO. (*)

Bagikan