Mon. Jun 27th, 2022

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Tanjungpinang Kite: Akau Potong Lembu, Kisah Antropologis Pecinan di Kepri

5 min read

akau potong lembu, pusat wisata gastronomi sekaligus gerbang akulturasi kuliner di Tanjungpinang/angkaberita.id/marwah

Tanjungpinang Kite: Akau Potong Lembu, Kisah Antropologis Pecinan di Kepri

angkaberita.id – Berdiri menghadap perairan lepas dengan latar belakang Pulau Penyengat, Klenteng Senggarang menjadi saksi bisu interaksi awal kebudayaan China di Kepri, persisnya di Tanjungpinang dan Pulau Bintan.

Klenteng yang diperkirakan berusia 304 tahun itu, menjadi lokasi persamuhan warga China perantauan di Bintan bersembahyang sekaligus mengudar rasa seputar perjalanan hidup di tanah seberang.

Jauh sebelum berdiri klenteng, diyakini warga China perantauan telah menjejakkan kaki, bahkan telah menetap di Bumi Gurindam. “Jadi jauh sebelum berdiri Klenteng Senggarang, artinya telah ada orang Tionghoa di sini. Karena biasanya, mereka akan mencari penghidupan dulu, baru kemudian membangun tempat ibadah,” tutur Edyanto, Peminat Budaya Tionghoa di Tanjungpinang, Rabu (7/8/2019).

Penjelasannya bukan tanpa bukti. Semenanjung Melayu dengan Selat Malaka-nya telah berabad-abad lamanya menjadi jalur perdagangan tersibuk dunia.

Singapura, Johor dan Riau (Sijori), termasuk di dalamnya Kepri meskipun baru resmi berdiri sendiri sebagai provinsi pada tahun 2002, menjadi bukti geografis keberadaannya.

Kawasan segitiga di tapal batas negeri serumpun ini dikenal sejak bahula sebagai kawasan “Strait Settlements”, yakni selat ramai dengan pulau berpenduduk berlatar belakang beragam budaya.

Laut menjadi urat nadi sekaligus perlintasan dagang dan silang budaya. Perdagangan nusantara dengan Negeri China, konon, telah terjalin sejak masa Dinasti Song (960-1127), dengan sejumlah bukti penemuan keramik pada penggalian arkeologi di Pulau Singkep dan Bintan.

Hingga periode penjelajahan Portugis dan kolonial Inggris menguasai Semenanjung Melayu. Pendeknya, jejak orang Tionghoa di Tanjungpinang, Kepri telah berakar tahun.

Kawasan permukiman di bibir pantai Tanjungpinang, sejak Klenteng Senggarang dan kawasan Kota Lama Tanjungpinang menjadi artefak hidup silang budaya itu.

Permukiman di Jalan Merdeka, Pelantar I dan II, Jalan Tambak, Potong Lembu dan sebagainya menegaskan eksisnya kawasan Pecinan di Bumi Gurindam.

Nama Potong Lembu, sebagian orang menyebutnya Akau Potong Lembu, menjadi cawan pembauran lintas budaya di Tanjungpinang, setidaknya dalam perspektif gastronomi dan kuliner. Di sinilah, terhampar sajian khas Melayu, menu Jawa, Minang, hingga masakan khas India dan China.

Akau Potong Lembu

Bersama dengan Melayu Square di Tepi Laut, Akau Potong Lembu tak sekadar tempat melepas penat sembari memanjakan lidah dengan menyantap hidangan nikmat.

Namun sejatinya, Akau Potong Lembu merupakan gerbang antropologis pecinan di Tanjungpinang, bahkan Kepri. Semua berawal dari konfrontasi Indonesia-Malaysia di era 1960-an.

Daging sapi yang biasanya dipasok dari Singapura dan Malaysia berhenti. Lalu disiasatilah dengan pendirian rumah pemotongan lembu di kawasan Potong Lembu sekarang.

Di sini, didatangkan sapi Jambi, versi lain sapi dari Madura. Pasokan kebutuhan daging sapi akhirnya mengalir lagi, lokasi selanjutnya dikenal sebagai kawasan Potong Lembu. Sapi di Tanjungpinang biasa disebut lembu.

Kenapa pada akhirnya terkenal sebagai Akau Potong Lembu? Bagi sebagian warga di Tanjungpinang, mengenal Potong Lembu sebatas pujasera alias tempat bersantai dan bersantap malam dengan keluarga sejak sore hingga malam.

Edyanto, Peminat Budaya Tionghoa dan Ketua Ikatan Tionghoa Muda Tanjungpinang

Menurut Edyanto, jejak sejarah Akau Potong Lembu lekat dengan sosok Akau, Si Penjual Kwetiauw Hainam. Semua bermula dari rencana Abdul Manan, Walikota Tanjungpinang menata pedagang kaki lima di kawasan Jalan Pos, kini Bintan Mall, dan sekitar Bank Mandiri sekarang. Saat itu, Tanjungpinang masih berstatus Kota Administratif.

Namun karena, lahan di kawasan sekitar Bank Mandiri sekarang milik perorangan, pemerintah lantas berencana merelokasi ke kawasan Batu 3, kini Bintan Plaza. Tetapi sebagian besar pedagang saat itu, melihat lokasi baru masih sepi.

“Waktu itu, kawasan Batu 3 belum seramai sekarang. Pusat kota bisa disebut di kawasan pasar dan sekitarnya,” tutur Edyanto, sehari-hari Ketua Ikatan Tionghoa Muda Tanjungpinang. Dengan pertimbangan bisnis, mereka mencari lahan lainnya.

Hingga akhirnya melirik kawasan Akau Potong Lembu. Di lokasi ini, hanya ada seorang pedagang saja. “Si Akau Penjual Kwetiauw Hainam, dengan empat-lima meja. Dia berjualan sendirian saat itu,” kata Edyanto.

Lokasi jualan masih berupa tanah merah. Satu persatu pedagang lainnya berpindah dan akhirnya mangkal di situ. Sehingga akhirnya menjadi kawasan pujasera Tanjungpinang di masanya.

Nama mendatangkan orang, dan sejak itu banyak warga Tanjungpinang mencoba kuliner di situ seiring banyaknya pedagang makanan di kawasan itu.

Geliat ekonomi perlahan berkembang, hingga akhirnya kawasan sekitarnya tak hanya berfungsi sebagai permukiman, namun juga lokasi membuka toko mengelilingi pujasera alias Akau Potong Lembu.

Siang hari menjadi lokasi parkir warga yang berbelanja ke Pasar Potong Lembu, petang hingga larut malam menjadi pusat kuliner Tanjungpinang. Tak hanya pembaruan lintas budaya, Akau Potong Lembu juga menjadi lokasi interaksi sesama generasi perantauan China di Tanjungpinang.

Mereka bersama-sama membuka usaha di sekitar lokasi. Latar belakang suku dan marga tak menjadi penghalang berniaga. Di Tanjungpinang, menurut Edyanto, selain suku Teochew, juga ada suku Hokkien, Hakka atau Kek, dan dua suku lainnya, yakni Hainam dan Liu Ciu.

Akau diyakni bersuku Hainam. Mereka merupakan keturunan generasi perantau dari China daratan. Teochew berasal dari Zhao Chow. Hokkian berasal dari Fu Zian. Hakka dari Ke Jia, Hainam dari Hainan dan Liu Ciu dai Liu Zoe.

“Paling banyak suku Teochew,” kata Ediyanto. Kendati berbeda dialek bahasa, masing-masing mereka bisa berkomunikasi satu sama lain. Tak hanya di Tanjungpinang, masing-masing suku itu juga menyebar ke sekujur Kepri. Bahkan, ke penjuru nusantara.

“Di Medan, kebanyakan Hokkien. Singkawang banyak Kek, seperti Kijang, banyak Kek,” ungkapnya. Surabaya dan Semarang, menurutnya kebanyakan, Hokkien dan Teochew.

“Kalau Jakarta, kebanyakan Kong Hu,” sebutnya merujuk suku Kanton. Lalu bagaimana dengan Kepri? Dalam penelusurannya, Edyanto memaparkan temuannya.

Lingga kebanyakan Teochew. Karimun menurutnya, tersebar merata. Karimun Tanjung Balai kebanyakan Teochew. “Meral banyak Hokkien, Tanjungbatu juga Hokkien,” sebutnya.

Natuna dan Anambas sebagian besar bersuku Hokkien, sedangkan Bintan kebanyakan Hakka mirip dengan Kek di Singkawang, Kalimantan Barat. “Kalau Batam sudah campuran,” jelasnya.

Masing-masing suku ini, menurutnya, memiliki marga. “Namun tidak selalu, meski sama nama marganya, berarti satu suku,” jelasnya. Artinya, Edyanto menjelaskan, semisal marga Tan, bisa jadi sukunya Teochew atau Hokkien.

Begitu juga dengan marga lainnya. Di juga tak menampik, jika setiap suku memiliki kesuksesan di bidang tertentu, meskipun sifatnya tidak mutlak. Semisal, suku Kek hebat berkebun, Teochew berdagang, Hokkien di bidang politik.

Hokkien sendiri lekat dengan tradisi di Taiwan, sesuai dengan asal usulnya yakni Fukkien, alias Fujian. Marga di Tanjungpinang, Edyanto mengaku tidak tahu persis. Namun dia bisa menyebut beberapa di antaranya. Yakni, marga Chen/Tan, Lee, Lie, Ling, Yang, Phang, Huang, Goh dan sebagainya.

Dengan semangat menjaga obor kebudayaan, sejumlah lembaga kebudayaan berdiri membawa nama masing-masing, seperti Yayasan Marga Tan, Kerukunan Keluarga Hakka atau Perkumpulan Teochew dan sebagainya.

“Tapi, bagi kami, generasi ketiga yang lahir di Tanjungpinang, keragaman itu menjadi tempat belajar. Saat perayaan Imlek, kami biasanya berkumpul,” kata Edyanto.

akau potong lembu, pusat wisata gastronomi sekaligus gerbang akulturasi kuliner di Tanjungpinang/angkaberita.id/marwah

(*)

Bagikan