Sun. Jul 21st, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Singapura dan Selat Malaka, Jembatan Batam-Bintan: Sebuah Ikhtiar Ekonomi

5 min read

kapal tengah lego jangkar di perairan dekat batam. jembatan batam ke bintan menjadi harapan baru mendorong pertumbuhan ekonomi di kepri setelah mandegnya soal lego jangkar/foto via batamnews.co.id

Singapura dan Selat Malaka, Jembatan Batam-Bintan: Sebuah Ikhtiar Ekonomi

angkaberita.id – Perang dagang antara China dan Amerika Serikat diyakini menjadi momen di balik percepatan realisasi pembangunan Jembatan Batam ke Bintan, selain rencana Singapura memperluas Bandara Changilengkap dengan akses transportasi langsung ke Bintan.

Alasan lain, tentu saja realisasi janji politik Presiden Jokowi saat berkampanye di Batam, April lalu. Apalagi secara legal, proyek penghubung dua pulau utama di Kepri juga merupakan proyek strategis pemerintah di Kepri sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024 dan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau Sumatera.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tengah mempersiapkan studi kelayakan dan desain rekayasa teknisnya. Diperkirakan akhir tahun ini, keduanya tuntas sehingga bisa memulai pengerjaan pada tahun 2020 dengan skema pembiayaan tahun jamak.

Realisasi pembangunan juga seiring dengan kebijakan pemerintahan Jokowi mereposisi Batam sebagai hub pengapalan alternatif sekaligus pabrikan produk ke Singapura.

Strategi ini diyakini lebih kompetitif di tengah perang dagang China dan Amerika Serikat tak kunjung reda. Masuknya Pegatron, pabrikan penyuplai komponen Apple telah memindahkan pabrikannya ke Batam, belum lama ini, dengan investasi 40 juta dolar menghindari tekanan perang dagang.

Seperti dilansir South China Morning Post, BP Batam sendiri bertolak ke Osaka, Jepang bulan lalu, mendampingi Presiden Jokowi saat KTT G-20 demi memuluskan peluang investasi itu.

Sehingga diharapkan, selain menekan ongkos logistik pembangunan jembatan lintas laut terpanjang di tanah air, ini juga meningkatkan konektivitas. Terutama antara dua pulau utama di Kepri, yakni Batam dan Bintan.

selat malaka/foto via indoprogress.com

Koneksi keduanya sekaligus mendukung pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Tanjung Sauh, Batam dan Galang Batam di Bintan. Keduanya diikhtiarkan menangkap peluang ekonomi seiring peningkatan kapasitas ekonomi Singapura dengan pembangunan terminal kelima di Bandara Changi.

Selain madu ekonomi Singapura, dengan merealisasikan pembangunan jembatan Batam ke Bintan. Pemerintah sebenarnya juga merencanakan pembangunan jembatan antara Semenanjung Malaysia dengan Sumatera Daratan.

Selat Malaka disebut merupakan jalur perdagangan tersibuk di dunia sejak dulu. Laman World Economic Forum, bahkan dalam satu artikelnya mengonfirmasi betapa berpengaruhnya jalur ini bagi tumbuh kembang dunia.

Di masa lalu, Selat Malaka ramai lalu lalang saudagar dair Romawi, Yunani, China dan India. Saking besarnya potensi bisnis di selat ini, Selat Malaka pecah menjadi muasal friksi internasional di abad ke-15 dan berlangsung hingga sekarang.

Pembukaan Terusan Suez di Mesir, pada 1869 bukannya mematikan jalur ini, sebaliknya menjadikannya kian penting sebagai jalur dagang Samudera India ke Pasifik.

Majalah The Atlantic dalam satu tulisannya juga mengungkap betapa dahsyatnya pergerakan kapal dagang melewati kawasan, dulu dikenal banyak lanun-nya, sehingga rentan terjadi tabrakan antara kapal dagang.

Hampir 100.000 kapal lalu lalang setiap tahunnya ke selat yang memisahkan Indonesia, Malaysia dan Singapura ini. Dengan nilai muatan kapal tadi diperkirakan setara seperempat total omzet perdagangan dunia, termasuk di dalamnya pengangkutan minyak mentah.

Khusus pengangkutan minyak, riset Statista menyebut Selat Malaka hanya kalah dari Selat Hormuz. Per tahun, sekurangnya 16,8 juta barrel minyak mentah dari negeri Teluk melewati Selat Hormuz, bandingkan dengan Selat Malaka hanya 15,7 juta barrel.

Tidak heran, keduanya memiliki letak geopolitis strategis. Selain sejumlah negara kekuatan ekonomi dunia berada di Asia Pasifik seperti China, Jepang, Korea Selatan, masalah minyak juga menjadi isu strategis bagi kepentingan jangka panjang negara tersebut.

Hadirnya armada Amerika Serikat dengan yurisdiksi Selat Malaka, Laut China Selatan dan Teluk Persia mengamini strategisnya Selat Malaka dalam peta hegemono dunia, ekonomi maupun energi.

China dikabarkan memiliki rencana cadangan jika jalur-jalur strategis seperti Selat Malaka memanas. Yakni, lewat Pelabuhan di Sri Lanka dan Pakistan. Sebagai kekuatan ekonomi kedua di dunia berdasar PDB, China berkepentingan melindungi investasinya, termasuk di sektor energi dengan memastikan jalur pasokan aman.

Menguatnya ekonomi China terbukti dengan posisi Pelabuhan Shanghai mengambil alih posisi Singapura sebagai pelabuhan kargo tersibuk di dunia pada tahun 2012. Namun dengan posisi kedua pun Singapura masih kewalahan menampung arus bongkar muat barang.

Inilah, salah satu di antaranya, ditangkap sebagai peluang Kepri, khususnya Batam dengan menawarkan kemudahan lego jangkar sembari menunggu dwelling time di Negeri Singa. Namun belakangan inisiatif lego jangkar jalan di tempat di Pemprov Kepri.

Sinyal Dubes

Jembatan Batam ke Bintan menjadi harapan baru mendorong pertumbuhan ekonomi di Kepri, terutama dari sektor pariwisata dan manufaktur.

“Saya sempat bertanya Duta Besar Indonesia di Singapura saat datang ke sini, Singapura sedang membuat Terminal 5 Changi yang intermoda sampai ke Bintan, sehingga jembatan itu sangat mendukung sekali,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Kamis (11/7/2019) seperti dikutip Liputan6.

Koneksi Batam ke Bintan diharapkan pemerintah mendatangkan investasi baru ke Batam. Seperti dikutip dari Katadata, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp 3-4 triliun demi mereliasikan jembatan dengan bentang sepanjang tujuh kilometer, dua kilometer lebih panjang dari Jembatan Suramadu, jembatan terpanjang di Indonesia saat ini.

pemerintah berencana merealisasikan pembangunan jembatan batam ke bintan demi mendorong investasi ke batam sekaligus menguatkan sektor pariwisata di kepri. foto jembatan barelang, jembatan penghubungan batam ke rempang sekaligus ikon batam/foto via liputan6.com

Pemerintah membiayai dengan skema tahun jamak serta membuka peluang partipasi puhak ketiga dengan bentuk Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

Secara bertahap, pemerintah meninjau dan survei ke lokasi rencana landing point alias rencana kaki jembatan dari sisi Pulau Bintan, persisnya di Tanjung Uban.

Selanjutnya trase awal dimulai di sini, dengan membangun tapak jembatan berikutnya menyusuri dua pulau sebelum berakhir di Kabil, Batam. Pulau di maksud di antaranya Pulau Tanjung Sauh dan Pulau Ngenang.

Menteri Basuki mengungkapkan, mempertimbangkan karakteristik wilayah kepulauan, pihaknya mempertimbangkan empat tapak jempatan sebagai pilar utama mulai dari barat, di Tanjung Talok (Batam), kemudian Pulau Ngenang, Pulau Tanjung Saih dan Kecamatan Sri Kuala Lobam, di Pulau Bintan.

Secara teknis, nantinya jembatan ini panjang 7.035 meter dan pembangunannya dibagi tiga trase, yakni pertama menghubungkan Pulau Batam dan Pulau Tanjung Sauh sepanjang 2.124 meter, trase kedua Pulau Tanjung Sauh ke Pulau Buau sepanjang 4.056 meter dan trase ketiga Pulau Buau ke Pulau Bintan sepanjang 855 meter.

Selain telah masuk ke Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024 dan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau Sumatera. Pembangunan jembatan ini juga sejalan dengan janji Presiden Jokowi merealisasikan proyek strategis di Kepri.

Memastikan pembangunan berjalan, para pemangku kepentingan dilibatkan, terutama mengupas aspek teknis seperti geologi, desain jembatan lantaran nantinya jembatan melewati palung laut yang dalam.

Juga aspek limpahan dari hadirnya jembatan ini, seperti sektor pariwisata, transportasi dan sebagainya, termasuk penataan permukiman nelayan yang selama ini menjadikan ketiadaan jembatan sebagai sumber penghidupan mereka. (*)

Bagikan