Thu. Dec 2nd, 2021

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Kenapa Pajak Penjualan Pembalut Wanita Jadi Andalan Negara Eropa?

2 min read

di sejumlah negara, produk konsumer kaum perempuan seperti pembalut wanita termasuk barang mewah sehingga dikenakan pajak penjualan tinggi. namun sejumlah negara lainnya menihilkan pajaknya lantaran proporsi penduduk wanitanya banyak/foto via jabarnews.com

Kenapa Pajak Pembalut Wanita Jadi Andalan Negara Eropa?

angkaberita.id – Tak hanya menjadi pasar terbesar produk konsumer, kaum perempuan diam-diam juga merupakan target terbesar pajak di dunia, termasuk lewat pajak pembalut wanita.

Bahkan, di sejumlah negara produk ini masuk barang mewah sehingga besaran pajaknya setara alkohol atau rokok. Di Uni Eropa semisal, seperti ditulis statista, pajak produk konsumer kaum perempuan mendominasi jenis pajak penjualan.

Sejumlah anggota Uni Eropa bahkan masih mengenakan besaran pajaknya di atas 5 persen, kendati perundangan di sini memperbolehkan negara memungut pajak hingga minimal 5 persen.

Sejumlah negara lainnya di dunia malah telah menghapuskan pajak penjualannya seperti Irlandia, Afrika Selatan, Kanada, India dan sejumlah negara lainnya.

Total terdapat 13 negara di dunia menihilkan pengenaan pajak penjualan pembalut wanita dengan sebaran terbanyak di benua Afrika, yakni lima negara.

Antara lain Afrika Selatan, Tanzania, Uganda, Kenya dan Nigeria. Asia terbanyak kedua, sebanyak tiga yakni Malaysia, India dan Lebanon. Benua Amerika juga tiga negara antara lain Jamaika, Nikaragua dan Kanada.

Benua Eropa dan Pasifik, masing-masing satu, Irlandia dan Australia. Sontak keputusan ini menuai pujian, meski kenyataannya produk konsumer lainnya masih dikenakan pajak seperti sembako, yakni roti dan beras.

Namun kalau merujuk alasan di baliknya ternyata kebijakan fiskal ini tak selalu semata menyangkut barang banyak dibutuhkan warga, namun ada alasan lainnya seperti melindungi produk dalam negeri.

Namun kebijakan serupa di negara lainnya malah memunculkan masalah baru. Pengenaan cukai tinggi ke produk impor serupa justru mengancam ketersediaan jika tak ada pasokan cukup terhadap kebutuhannya. (*)

Bagikan