Translok Rempang, Model Transmigrasi Semut Dan Gula Di Batam

angkaberita – Iftitah Sulaiman, Menteri Transmigrasi, menunaikan janji berlebaran di Rempang, Batam.  Senin (31/3/2025). Dia Salat Id di Masjid Al Fajri, Desa Sembulang, bersama warga setempat. Dia ingin berlebaran bersama warga terimbas proyek Rempang Eco City. Dia mengaku ingin menyelami suasana kebatinan warga di sana.

Kepada warga, dia berkomitmen tetap memberikan jalan tengah terbaik bagi warga tetap bertahan. Relokasi ke Tanjung Banon tidak ada paksaan, alias sukarela. Dia juga menawarkan skema transmigrasi lokal kepada warga, dengan komitmen mereka terserap di proyek Rempang Eco City.

Tapi, sebagian warga berpandangan lain dengan kebijakan itu. Mereka tetap meyakini itu tak ubahnya penghalusan istilah penggusuran. Bahkan, sebagian lainnya menuding sebagai muslihat dengan tujuan akhir tetap merelokasi warga.

Karenanya, sebagian mereka tetap bertahan, dan menolak kebijakan itu. Namun Menteri Iftitah tak patah arang. Dia tetap meyakini “Transmigrasi Baru” jalan tengah terbaik. Sebab, Kementrans meyakini kebijakan transmigrasi bukan sebatas perpindahan penduduk.

Baca juga :  Lewat Tangan Bupati Cen, Harapan Transmigran Batubi Di Natuna Miliki Lahan Kian Di Depan Mata

Tapi, untuk sebagian, juga distribusi pertumbuhan dengan skala terbatas. Istilah dia, Transmigrasi model “Ada Gula Ada Semut”. Apa itu? “Dulu kita bicara transmigrasi sebagai relokasi. Hari ini kita bicara transmigrasi sebagai transformasi,” tegas Menteri Iftitah, seperti detikcom tulis, pekan lalu.

Lima Pilihan Transmigrasi

Bukan sebatas transformasi ekonomi dan sosial, tapi juga manusia. Ke depan, kata dia, pemerintah tidak hanya berupaya memindahkan penduduk dari kota ke desa atau wilayah tertinggal, tapi lebih kepada membangun ekosistem perekonomian baru di daerah transmigrasi. Ujungnya, warga sukarela pindah.

Singkatnya, Kementerian bertugas menciptakan “Mesin Pencetak Uang”, dengan mengadopsi lima pilar transmigrasi baru, termasuk relokasi penduduk berbasis pendekatan “Gula dan Semut”. “Dengan strategi ada gula ada semut untuk mempermudah pemahaman masyarakat,” kata dia.

Baca juga :  Musim COVID-19, Kenapa Olahragawan Kulit Hitam Memikat Penonton Televisi Amerika Serikat?

Sekaran Kementerian bukan mengurus perpindahan penduduk, tapi menciptakan “Gula” supaya semutnya berdatangan. Demi merealisasikan, Kementerian menghadirkan lima skenario transmigrasi baru. Yakni, Transmigrasi Tuntas.

Kemudian, Transmigrasi Lokal. Selanjutnya Transmigrasi Patriot. Berikutnya Transmigrasi Karya Nusantara. Terakhir, kebijakan Transmigrasi Gotong Royong. Khusus terakhir, Kementerian melakukan dnegan skema revitalsiasi kawasan tranmigrasi lama menggunakan konsep gotong royong.

Ujungnya menjadikan kawasan transmigrasi berkelanjutan. Dengan lima skenario tadi, Kementerian juga membuka peluang swasta mendanai kebijakan transmigrasi lewat skema investasi. Rempang sekarang telah tersedia “Gula” lewat investasi ratusan triliun di sana. Kini menjadi pekerjaan rumah Kementerian memastikan skenario transmigrasi paling sesuai dengan kebutuhan warga di sana.  (*)

 

 

 

Bagikan