Sat. Jul 4th, 2020

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

COVID-19, Fakta Tak Terungkap Di Balik ‘Jenis Kelamin’ Virus Corona

3 min read
benarkah pandemi covid-19 merupakan wabah perkotaan?/foto ilustrasi virus corona via kompas.com

COVID-19, Fakta Tak Terungkap Di Balik ‘Jenis Kelamin’ Virus Corona

angkaberita.id – Kenapa badai di dunia banyak bernama perempuan, meskipun belakangan juga mulai dipakai nama kaum laki-laki. Sebagian diyakini lantaran banyak pelaut di masa lalu berasal dari kaum laki-laki, meskipun alasan sebenarnya demi memudahkan komunikasi.

Kini pertanyaan serupa mencuat: Kenapa kaum pria lebih rentan terinfeksi virus corona? Jangan-jangan? Terlepas dari penasaran pembahasaan itu, kini dunia tengah berpacu dengan waktu menemukan vaksin penangkal virus corona biang pandemi COVID-19.

Tantangan kian pelik lantaran sang virus juga terus bermutasi, termasuk virus COVID-19 di tanah air. Disinyalir tipe virus corona di tanah air berbeda dengan negara lain merujuk hasil analisa GISAID terhadap tiga whole genome sequence (WGS) alias genom virus corona Covid-19 kiriman dari Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman.

GISAID merupakan institusi kolaborasi Pemerintah Jerman dan LSM guna mempelajari data genetika virus. Lembaga itu biasa meriset ribuan genome virus atau mikroba penyebab wabah. “Ternyata tiga WGS yang dikirim Indonesia termasuk kategori lainnya,” kata Bambang Brodjonegoro, Menristek seperti dilansir Katadata.

Menristek mengatakan, GISAID melalui LBM telah menginformasikan pada Selasa, 5 Mei 2020 pagi, bahwa virus corona di tanah air tak termasuk dalam tipe telah dikenal sejauh ini, yakni tipe S, G, dan V. Ketiga tipe itu disebut jamak menginfeksi penduduk dunia saat ini.

Namun lanjut Bambang, identifikasi baru langkah permulaan. Pihaknya berjanji bakal mengirimkan data WGD ke GISAI dalam jumlah lebih banyak guna mengetahui konfigurasi tipe virus COVID-19 berjangkit di tanah air.

“Ini untuk mengetahui karakter Covid-19 yang beredar di Indonesia,” katanya seraya menambahkan, langkah itu demi kepentingan pengembangan vaksin terkait. Klaim terakhir, sejumlah perusahaan farmasi dunia segera uji klinis ke pasien COVID-19.

Tak hanya berevolusi hingga hampir 200 mutasi, virus corona biang pandemi COVID-19 juga sempat berubah jenis kelamin. Kondisi terakhir, setidaknya dalam perspektif bahasa, terdapat dua varian bahasa Prancis terkait jender kata COVID.

Di Prancis, tulis The Guardian, virus corona digolongkan jenis maskulin karenanya ditulis “le Covid”. Namun versi Dewan Bahasa Prancis, Académie Française, penggolongan kata COVID sebagai gender maskulin tak tepat. Versi mereka, kata itu tergolong feminin: “la Covid”.

“Covid merupakan singkatan penyakit virus corona, dan singkatan memiliki genus nama pembentuk frase pembentuk singkatan itu,” bunyi pernyataan Dewan Bahasa Prancis di situs lembaganya dengan judul “Say, don’t say”. Belakangan diyakini, klarifikasi itu demi menghentikan infeksi bahasa Inggris dalam bahasa Prancis.

Sebagai penguat penjelasan, Dewan Bahasa Prancis juga memberikan deskripsi sebagai pembanding. Perusahaan kereta api Prancis semisal, yakni SNCF (Société Nationale des Chemins de Fer) memakai artikel “la” dan dengan demikian, termasuk kata feminin lantaran merujuk “Masyarakat” dan kata itu tergolong feminin.

Berbeda dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC). Katanya, makna kata “Komite” tergolong maskulin, sehingga ditulis dengan artikel “le”. Katanya, “Jika sintaksis berasal dari bahasa asing, prinsip serupa berlaku. Kita dapat membedakan FBI, Biro Penyelidik Federal di Amerika Serikat, dengan CIA, Dinas Intelijen Pusat di Negeri Paman Sam, karena dalam kasus itu, kata pokoknya diterjemahkan dari kata benda maskulin, Biro, dan feminin, Dinas.”

Kendati demikian, Dewan Bahasa Prancis tak mengubah singkatan COVID meskipun berasal dari bahasa Inggris, meskipun kalau versi Prancis seharusnya COVIM, kepanjangan dari “corona virus morbus”.

“Penyakit virus corona – perlu dicatat merujuk kata Latin dengan arti dan penggunaanya lebih umum – berarti ‘penyakit akibat virus mahkota’ (crown-shaped virus),” tulis Dewan Bahasa Prancis.

Kesimpulannya, jika merujuk frase Latin morbus itu, “Kita seharusnya mengatakan COVID-19 termasuk feminin, karena inti kata itu (morbus) sama dengan maladie. Penggunaan gender feminin lebih diutamakan dan karenanya belum terlambat (menulis) singkatan itu sesuai gender kata semestinya.”

Tak hanya soal singkatan COVID-19, Dewan Bahasa Prancis, juga mengulas istilah terkait pandemi COVID-19 lainnya, seperti langkah keamanan (protective measures) penulisan bahasa Prancis tepatnya des gestes barrières.

Begitu juga dengan penjarakkan sosial (social distance), penulisannya bukan “distanciation sociale” tapi “respect des distances de sécurité” alias jaga jarak aman (respect the security distances),”. (*)

Bagikan