Thu. Apr 25th, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Kenapa Setiap Ada Orang Menguap, Anda Ikutan Menguap? Begini Penjelasannya

3 min read

Menguap ternyata bisa menular. Otak disebut berada di balik pemicunya/Foto marieclaire.co.uk via Intisari.grid.id

angkaberita.id – Seperti virus, menguap ternyata bisa menular. Benarkah menguap penanda tubuh Anda ingin beristirahat karena mengantuk?

Pernahkah Anda mengalami hal seperti ini: Anda menguap, namun tak lama teman di samping Anda juga menguap? Terdengar umum. Namun jika diperhatikan ini hampir terjadi pada semua orang.

Oleh karenanya, timbul pertanyaan: mengapa saat orang menguap, orang di sebelahnya akan ikut menguap? Nah, pembahasan soal ini nyatanya dibahasan dalam Hari Tidur Sedunia.

Hari Tidur Sedunia atau World Sleep Day adalah acara tahunan yang dibentuk dan diselenggarakan Komite Tidur Sedunia (World Sleep Society) yang sebelumnya bernama World Association of Sleep Medicine sejak 2008.

Hari Tidur Sedunia diperingati setiap tanggal 15 Maret. Melalui situs resminya, World Sleep Society ingin mengajak masyarakat luas menangani masalah-masalah terkait tidur, termasuk pemakaian obat, pendidikan, aspek sosial, dan mengemudi.

Program ini bertujuan untuk mengurangi beban masalah tidur pada masyarakat melalui pencegahan dan pengelolaan gangguan tidur yang lebih baik.

Nah, salah satu hal yang berkaitan dengan tidur adalah menguap sebagai tanda kita mengantuk. Lalu mengapa menguap itu menular? Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 31 Agustus 2017 mengungkap bagaimana fenomena itu bisa terjadi.

Peneliti menyebut jika perilaku tersebut muncul karena adanya aktivitas di bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi motorik. Untuk mempelajari apa yang terjadi di otak seseorang saat melihat orang lain menguap, para peneliti melakukan pengamatan terhadap 36 orang dewasa.

Mereka diminta untuk menonton video orang lain yang sedang menguap. Dengan menggunakan stimuli magnetik transkranial (TMS), para peneliti lalu mengukur aktivitas otak partisipan selama percobaan.

Dalam satu percobaan, orang-orang diminta untuk mencoba dan menahan menguap saat melihat video orang yang menguap. Pada percobaan lain, para peserta diberi instruksi yang sama, tetapi peneliti juga menambahkan arus listrik ke kulit kepala para partisipasan tersebut.

Arus ini dimaksudkan untuk merangsang korteks motorik yang diperkirakan bisa mengendalikan menguap. Selama eksperimen, peserta juga diminta untuk memperkirakan keinginan mereka untuk menguap.

Hasilnya, peneliti menemukan jika kecenderungan seseorang untuk meniru menguap ini berkaitan dengan tingkat aktivitas otak di korteks motor seseorang.

Semakin banyak aktivitas di daerah tersebut, maka kecenderungan seseorang untuk menguap semakin meningkat. Hal ini terbukti ketika arus listrik dialirkan ke daerah tersebut.

Dorongan untuk menguap turut meningkat. Selanjutnya, para peneliti juga menemukan bahwa hanya sebagian yang sukses menolak keinginan untuk menguap. Saat partisipan diminta untuk menolak menguap, dorongan untuk menguap justru naik.

“Dengan kata lain dorongan untuk menguap meningkat seiring dengan keinginan diri sendiri untuk mencoba menghentikan aktivitas menguap itu,” kata Georgina Jackson, profesor neuropsikologi kognitif di Universitas of Nottingham Inggris yang terlibat dalam penelitian ini seperti dikutip Live Science, Kamis (31/8/2017).

Peneliti juga menyebut jika perilaku menguap yang menular itu merupakan jenis echophenomenon. Dengan kata lain, itu adalah perilaku meniru orang lain secara otomatis.

Echophenomena sendiri ada bermacam jenisnya, termasuk di antaranya adalah echolalia atau meniru kata-kata seseorang dan echopraxia atau meniru tindakan seseorang. Temuan lain juga menunjukkan jika menguap yang menular ternyata bukan hanya terjadi pada manusia.

Hewan lain termasuk anjing dan simpanse juga rentan mengalami fenomena tersebut. (Intisari.grid.id/Kompas.com/Gloria Setyvani Putri)

Bagikan