Sun. Jan 17th, 2021

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Ke Lingga (2-Habis): Dabo Singkep, Nostalgia Smokel Timah Dan Pemandian Panas Pembesar Kepri

5 min read
wisma timah sisa kejayaan pertambangan timbah di singkep kabupaten lingga/foto via kebudayaan.kemendikbud.go.id

Ke Lingga (2-Habis): Dabo Singkep, Nostalgia Smokel Timah Dan Pemandian Panas Pembesar Kepri

angkaberita.id – Jika singgah ke negeri kaya hasil alam, tak jarang terdengar cerita-cerita ironi. Di Sulawesi Utara semisal, di masa kejayaan cengkih sewaktu harga rempah itu melejit, konon petani-petani berlomba-lomba membeli barang elektronik meskipun belum ada listrik.

Sehingga lemari es dibiarkan terpajang menjadi tempat menyimpan pakaian, meskipun konon cara terbaik menjaga keawetan baju berbahan denim ialah menyimpan celana blue jeans-nya di kulkas. Namun, di kala rempah penyedap rokok atau sup itu runtuh, ramai-ramai petani membabat pokok di kebun. Bahkan, nekat gelap mata lantaran menanggung utang menumpuk.

Di Jambi, kala harga jual sawit merajalela tinggi, mobil dan motor keluaran terbaru justru hilir mudik di perkebunan, bukan di jalanan ibukota. Begitu nilai jual tandan buah tanaman penopang industri minyak goreng itu lunglai, antrean pengadaian mendadak mengular. Tak sedikit menjual murah rumahnya daripada malu dikejar-kejar penagih utang.

Ironi serupa juga terdengar di Singkep, Kabupaten Lingga. Sebelum PT Timah resmi hengkang di tahun 1992, ibarat kata menjadi smokel (penyelundup) mineral bahan baku industri elektronik, itu bukanlah aib. Bahkan, nelayan setempat lebih memilih menjajakan ikan ke perumahan pekerja timah ketimbang menjual ke pasar.

Di masa jayanya, PT Timah ibarat penguasa pulau. Bahkan, rumah dinas pejabat daerah sepenuhnya dari kantong perusahaan pelat merah itu. Tak peduli pangkat dan jabatannya, seluruhnya dapat, dengan model rumah serupa. Namun, begitu mereka hengkang, tak perlu hitungan tahun ikut berhamburan pula warga Singkep mengadu nasib ke Tanjungpinang dan Batam.

Nostalgia itu masih terekam kuat di sebagian warga, terutama mereka yang pernah mengalami masa kejayaan timah di Singkep. “Kami sampai kucing-kucingan dengan sekuriti perusahaan timah,” ungkap Atuk, seorang warga, pada satu kesempatan di Singkep.

Bahkan, lanjut dia, tak sedikit kawan usilnya di waktu remaja tadi, di belakang hari menjadi pembesar, termasuk menjadi pejabat lokal. Ekonomi Kepri, diyakini, juga tak sepenuhnya steril dari aktivitas smokel. Disparitas harga antara Kepri dengan Singapura, di mata sebagian pengamat ekonomi, merupakan biang di balik kondisi itu.

Tak heran, Kepri menjadi daerah pertarungan produk negeri serumpun. Mulai produk Singapura, Malaysia hingga Thailand. Hanya saja, konsentrasi penguasaan akses ke situ, terbatas. Sehingga mimpi Habibie membangun Batam habis menjadi tarik ulur Bonded Zone, FTZ dan akhirnya KEK!

Konsentrat “Tanah Jarang”

Jejak tambang timah di Singkep berawal dari konsesi Kesultanan Riau Lingga kepada Belanda. Ketimbang terusik kekuasaannya di Daik, mereka memberikan Belanda ‘mainan’ di Singkep. Belanda ke Singkep setelah lebih dulu menduduki Tanjungpinang di era 1900-an. Intimidasi ke Kesultanan hanya taktik Belanda.

Apalagi, secara geologis, sejak daratan Thailand hingga Kalimantan Barat, mencakup di antaranya Semenanjung Malaysia serta Singkep dan Bangka Belitung termasuk jalur timah batuan granit. Tanah di situ kaya kandungan konsentrat timah. Tak heran, di masa kejayaan timah kelolaan Belanda, di Singkep hanya dikenal tiga kampung paling berkembang.

Yakni, Kampung Tionghoa, Kampung Timah dan Kampung Melayu. Kampung Melayu tersebar di sekujur pulau. Perlahan namun pasti, timah mengubah lanskap kekuasaan di Kesultanan dan Lingga di masa kini. Sejumlah daerah pertambangan tumbuh dan berkembang seiring proses eksplorasi industri ekstraksi itu.

Selain Dabo, Kuala Raya dan Kote menjadi kawasan ramai, termasuk secara ekonomi. Namun, seiring redupnya timah, tinggal Dabo masih bertahan hidup. Raya hanya meninggalkan rumah pekerja timah sebagai bukti sisa-sisa kejayaan tambang timah di Negeri Bunda Tanah Melayu selama lebih 100 tahun terakhir. Sedangkan Kote, berusaha bertahan diri, melalui pemekaran menjadi kecamatan di Pulau Singkep.

Selain Pancur, Dabo pada akhirnya menjadi urat nadi perekonomian di Pulau Lingga dan Singkep, dengan corak pecinan. Timah juga melahirkan pemodal-pemodal lokal di pecinan itu. Sebagian di antara mereka hijrah ke Batam dan Tanjungpinang, seiring bergesernya konsentrasi usaha timah ke Kundur dan Karimun.

Di Batam, mereka membuka usaha baru dan bertarung mencari peruntungan, termasuk berebut rembesan rezeki dari Singapura. Sedangkan mereka tetap bertahan di Dabo, juga bergelut mengais nasib seiring berdirinya Kabupaten Lingga di awal tahun 2000-an. Sejak itu, dan seterusnya, seperti berlaku hukum tak tertulis, Lingga terkutub Daik dan Dabo, bukan lagi Selingsing.

Hajatan Pilkada menjadi bukti sahih itu. Sedangkan Selingsing terus mereplikasi diri melalui pemekaran. Dari tiga di awal pendirian kabupaten menjadi 13 kecamatan sejak 2012. Jika dulu timah, kini Lingga terbantu alokasi dana desa berkat sebaran desa terbanyak hasil pemekaran selama 10 tahun terakhir.

Selebihnya, di masa Bupati Alias Wello, mencoba peruntungan membuka sektor agroindustri, termasuk mencetak sawah. Apakah sektor tambang sepenuhnya mati di Lingga? Tidak juga, sejumlah pengusaha pertambangan mulai masuk lagi, sebagian juga memantik kontroversi. Bahkan, diyakini ke depan, Lingga bukan mustahil kembali hidup seiring kehebohan tambang “tanah jarang”.

Selain nikel, tanah jarang merupakan mineral primadona masa depan. Konsentrat mereka, biasa dikenal dengan sebutan rare earth ditemukan di remahan pasir timah. Harian South China Morning Post di Hongkong, dengan apik, memvisualisasikan betapa tergantungnya dunia masa depan dengan rare earth, terutama industri militer dan pertahanan.

Mandi Panas Pembesar

Selain atraksi kolong-kolong tambah timah, Singkep juga kaya destinasi wisata alam dan kultural. Seperti Pantai Batu Berdaun, Pantai Todak, dan Meriam Berdiri. Seperti di Daik, masing-masing mereka memiliki kekhasan, termasuk cerita-cerita di baliknya.

Meriam berdiri atau meriam tegak, konon meskipun telah didatangkan kendaraan berat, tetap tak tercerabut dari tanah. Pantai Batu Berdaun, selain menjadi kemah dan pesta barbeque menyambut tahun baru, juga menyisakan kajian toponimi khas Melayu. Kenapa? Penamaan tempat di Lingga tak jauh dari tanjung, kuala, batu, bukit, sungai, lubuk, tajur, atau penanda alam lainnya.

Nah, di antara atraksi wisata alam, pemandian air panas di Dusun II Desa Berindat, Singkep Barat, menjadi kenikmatan sendiri. Konon, sumber air panas di tengah hutan itu berasal dari kandungan belerang. Jejaknya terendus sejak masa pertambangan timah Belanda di dekat kawasan itu. Hingga belum terbukti keliru, klaim itu tak perlu diperdebatkan.

Kecuali berdebatnya sembari mandi di pemandian dengan tiga level panas itu. Apalagi mandinya di malam hari, mendekati pukul 24.00 WIB. Rasa panas air menghempaskan gigitan dingin malam hari. Tak heran, jika pembesar di Kepri seperti Gubernur Nurdin Basirun, Kapolda Kepri dan sejumlah pejabat Kepri lainnya dikabarkan menyempatkan diri berendam di situ begitu menjejakkan kaki di Singkep.

“Gubernur Nurdin sudah beberapa kali ke sini,” ungkap seorang pembesar Kepri, pada satu kesempatan. Mandi panas bukanlah akhir atraksi di Singkep. Karena masih ada wisata goyang lidah berupa kuliner gulai pelanduk. Jika di buku dongeng Si Kancil selalu memikat dengan kecerdikannya, di Singkep si pelanduk memikat dengan kelezatannya di meja makan Kedai Mak Hitam.

(*)

Bagikan