Wed. May 19th, 2021

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Pilkada Di Kepri (9): Peta Pilgub Di Tanjungpinang, Kubu Siapa Paling Solid?

4 min read

di mata zamzami a karim, pemilih tanjungpinang terbilang rasional. tiga kriteria penting sebagai pemikat mereka, kedekatan, isu kebijakan dan rekama jejak kapasitas paslon. kenapa?/foto via batamnews.co.id

Pilkada Di Kepri (9): Peta Pilgub Di Tanjungpinang, Kubu Siapa Paling Solid?

angkaberita.id – Kecuali Eis Aswati, empat anggota anggota DPRD Kepri hasil Pileg 2019 asal daerah pemilihan Tanjungpinang terlibat aktif dalam Pilgub 2020. Tiga orang di antara mereka, wajahnya selama masa kampanye, terpampang dengan paslon dukungan parpol masing-masing.

Yakni, Lis Darmansyah, Bobby Djayanto dan Teddy Jun Askara. Sedangkan Rudy Chua, tercatat sebagai Ketua Timses Isdianto-Suryani di Tanjungpinang. Hanya Eis Aswati, anggota DPRD Kepri dari Demokrat, terbilang nyaris tidak sekasat mata empat sejawatnya di DPRD Kepri itu.

Dari 45 kursi DPRD Kepri, lima di antaranya berasal dari Tanjungpinang. Lis Darmansyah menjadi peraih suara terbanyak dibanding empat koleganya di Pileg kemarin. Lis bertarung ke Pileg berstatus mantan Walikota Tanjungpinang, setelah kalah di Pilwako 2018 dari Syahrul.

Empat nama tadi, selama Pilgub 2020, menjadi timses tiga kontestan Pilkada serentak berpuncak 9 Desember mendatang. Lis Darmansyah, berstatus Sekretaris PDIP Kepri menjadi orang kepercayaan duet Soerya Respationo-Iman Sutiawan.

Bobby Djayanto dan Teddy Jun Askara, masing-masing dari Nasdem dan Golkar, bahu membahu dengan pasangan Ansar Ahmad-Marlin Agustina. Sedangkan Rudy Chua, wakil Hanura di DPRD Kepri, menjadi simpul parpol koalisi Isdianto-Suryani di Tanjungpinang. Siapa piawai?

Kendati Pilgub, diyakini sebagian kalangan, sebagai kontestasi figur paslon, namun tak bisa dinafikan peran tim pemenangan, terutama memetakan kantung suara dan menggalang dukungan pemilih. Apalagi Tanjungpinang bersama dengan Karimun dan Batam merupakan daerah kunci (battleground) memenangi Pilgub.

Selain tempat bercokolnya pemilih terbanyak di Kepri, ketiganya sejak dulu juga memiliki peran strategis lantaran status politisnya. Karimun, secara de facto, merupakan daerah asal tiga gubernur di Kepri kurun 15 tahun terakhir. Batam sebagai pusat ekonomi berandil terhadap tinggi rendahnya angka pengangguran di Kepri.

Sedangkan Tanjungpinang, sebagai ibukota, menjadi etalase kebijakan publik Kepri ke depan. Pada gilirannya, secara politis, ketiganya akan selalu menjadi pendulum kekuasaan sekaligus representasi teritorial tiga pulau utama di Bumi Segantang Lada, dalam rupa Pulau Karimun, Barelang dan Bintan.

Kondisi itu, pada akhirnya, menjadikan ketiganya magnet demografi. Data Dinas PMD Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kepri mengonfirmasi itu. Ketiganya terus menjadi tujuan utama arus perpindahan penduduk. Di saat, kabupaten kepulauan lebih banyak warganya berpindah, sebagai gambaran, ketiganya mencatatkan diri surplus kedatangan penduduk menetap.

Nah, dengan kondisi itu, memenangkan hati pemilih di Tanjungpinang keharusan agar paslon dukungan melenggang ke Kepri Satu. Siapa di antara empat nama tadi bakal menjadi king maker bagi tiga kontestan Pilgub? Kubu palson siapa paling solid dan berpeluang mendulang dukungan?

Skenario Pileg

Berkaca hasil Pileg 2019 di Tanjungpinang, dapat dikatakan, tidak ada kekuatan politik dominan. Karena lima kursi dapil Tanjungpinang terbagi merata di antara parpol pengusung paslon Pilgub. Selain PDIP, empat kursi DPRD Kepri lainnya tersebar ke Golkar, Nasdem, Hanura dan Demokrat.

Kecuali Demokrat dan Hanura, tiga parpol pertama merupakan penguasa kursi di DPRD Kepri dengan duduk di unsur pimpinan. Kelima parpol itu bakal bertarung lagi di Pilgub, sebagai bagian koalisi, paslon Sinergi, Insani dan Aman. Koalisi Sinergi terdiri PDIP, Gerindra dan PKB.

Hanura dan Demokrat bersama PKS berkoalisi ke Insani. Sedangkan Nasdem dan Golkar di balik Aman, ditambah PAN dan PPP. Dengan kondisi itu, Pilgub sekarang menjadi ajang unjuk kepiawaian politik empat nama besar tadi, kepada paslon masing-masing, meskipun terbuka lebar apologi di setiap kegagalan.

Kuncinya jeli melihat perilaku pemilik Tanjungpinang di setiap hajatan politik. Siapa di antara mereka paling lihai? Zamzami A. Karim, Analis Politik Kepri di Tanjungpinang memberikan pandangan. Menurutnya, situasi pemilih Pilgub tidak bisa disamakan dengan Pileg kemarin.

“Para pemilih tidak mesti mengikuti garis pilihan partai,” ungkap Zamzami. Dengan kata lain, pemilih Lis Darmansyah di saat Pileg lalu, bisa jadi tidak selalu ke Sinergi. Begitu juga dengan pencoblos Teddy Jun Askara dan Bobby Djayanto tak dapat dipastikan bakal mendukung Aman. Pun, tak serta merta pendukung Rudy Chua mencoblos Insani.

Temuan di lapangan, Zamzami menambahkan, terjadi kecenderungan pendukung dan simpatisan parpol dalam koalisi justru bersimpang jalan dukungan ke paslon Pilgub. Meski demikian, dia sepakat empat nama tadi tetap memilih ceruk pemilih tertentu. Meskipun, untuk sebagian, Zamzami mengungkapkan terdapat tiga nama sekaligus berebut di satu ceruk sama.

Berkaca di Pileg kemarin, Zamzami menambahkan, peta sebaran konstituennya tak jauh dari persepsi publik di Tanjungpinang, selama ini. Konstituen Jawa dan Batak cenderung ke PDIP, meskipun sebagian Batak juga mengalir ke Demokrat.

Melayu dan Minang ke Golkar, PKS dan PAN. Pemilih Tionghoa terkonsentrasi ke Lis, Bobby dan Rudy. “Selebihnya tersebar ke partai kecil lainnya,” kata Zamzami membeberkan “otopsi” hasil Pileg 2029 di Tanjungpinang.

Skenario Pilwako

Dapat disebut, pemilih Tanjungpinang tergolong silent majority. Hasil Pilwako 2018, untuk sebagian, menjadi bukti sahih fenomena elektoral itu. Kendati telah mengantongi pilihan, tapi mereka cenderung diam. Tak heran, sigi hasil survei meleset karena mereka yang mengaku mendukung paslon tertentu nyatanya tidak datang mencoblos.

Kondisi itu, untuk sebagian, bakal terulang kembali di Pilgub Kepri pada 9 Desember mendatang, terutama di pemilih pemula. Pada Pilwako lalu, Lis-Maya harus mengakui keunggulan Syahrul-Rahma. Padahal jika rujukannya parpol pengusung, Lis-Maya jelas di atas angin.

Pada titik itu, Pilkada sebagai pertarungan figur tak terbantahkan. Apalagi, hasil Pileg 2019 di DPRD Tanjungpinang, PDIP kembali menjadi pemenang kursi terbanyak meskipun Golkar dan Nasdem terbilang kompetitif, terutama di Tanjungpinang Barat sebagai benteng suara Golkar.

Apa itu artinya bagi Pilgub Kepri? “Pemilih Pinang relatif rasional,” tegas Zamzami, Dosen Stisipol Raja Haji, belum lama ini. Setidaknya terdapat tiga alasan pemilih di Tanjungpinang menjatuhkan pilihan nantinya. Yakni, kedekatan dengan paslon, isu kampanye dan jejak rekam kepemimpinan paslon. Di antara empat nama tadi, siapa jempolan menafsirkan?

(*)

Bagikan