Wed. May 19th, 2021

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

COVID-19, Hasil Riset Simpulkan ASI Obat Alami Tangkal Infeksi Corona. Kabar Baik Bagi Batam?

3 min read

menyusui bagi kaum ibu tak sekadar jalinan batin dengan buah hatinya, namun juga kontribusi nyata bagi penyelamatan ekonomi dunia dari gerogotan pengeluaran biaya jaminan kesehatan. terbaru hasil riset di china, asi juga menangkal penularan covid-19/SpineUniverse via cantik.tempo.co

COVID-19, Hasil Riset Simpulkan ASI Obat Alami Tangkal Infeksi Corona. Kabar Baik Bagi Batam?

angkaberita.id – Tak hanya baik bagi perekonomian dunia, Air Susu Ibu (ASI) ternyata juga merupakan penangkal alami COVID-19. Selain identik dengan ASI, kaum perempuan secara hormonal juga terbilang resisten dari infeksi corona. Kabar gembira?

Kesimpulan itu terungkap dalam publikasi hasil riset ilmuwan China di situs kesehtaan, biorxiv.org, Jumat (25/9/2020). Seperti dilansir CNBC Indonesia, kabar gembira itu merupakan hasil riset ilmuwan di Beijing University of Chemical Technology.

Riset terhadap ASI telah dilakukan Profesor Tong Yigang Cs, sejak tahun 2017 jauh sebelum pandemi. Dan, menurut publikasi itu, telah diujicobakan ke berbagai jenis sel, seperti sel ginjal hewan hingga sel paru-paru dan usus anak muda.

Hasilnya sama, dan sebagian besar strain virus yang hidup terbunuh oleh ASI. Diungkapkan, “ASI mampu memblokir bahkan replikasi virus setelah masuk,” tulis penelitian itu, seperti dikutip South China Morning Post, Senin (28/9/2020).

Hasil penelitian ini bertentangan anggapan sebelumnya bahwa menyusui dapat meningkatkan risiko penularan COVID-19. Menurut laporan itu, bayi baru lahir di Wuhan dipisahkan dari ibu positif COVID-19 dan diberi asupan susu formula sejak Februari 2020.

Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) dia Amerika Serikat juga mengingatkan soal itu, bayi menyusu ibu diduga COVID-19 dianggap suspect corona. Namun, hasil penelitian Tong Yigang justru memperkuat studi WHO yang meminta ibu meneruskan memberikan ASI, meskipun mereka positif COVID-19.

Karena, berdasarkan penelitian, dengan melibatkan 46 ibu menyusui sekaligus terinfeksi COVID, anaknya tidak terinfeksi dari menyusu. Dalam penelitian itu, Tong Yigang dan rekannya mencampurkan beberapa sel sehat ke dalam ASI manusia, kemudian mencuci ASI dan mengekspos sel itu ke virus.

Hasilnya, mereka mengamati hampir tidak ada pengikatan atau masuknya virus ke sel-sel ini, dan pengobatan juga menghentikan replikasi virus dalam sel yang sudah terinfeksi.

Mereka menyimpulkan bahwa infeksi dapat dihalau oleh ASI, yang diketahui memiliki efek menekan pada bakteri dan virus seperti HIV. Tong Yigang dan koleganya menduga virus corona sensitif terhadap beberapa protein antivirus terkenal dalam susu, seperti laktoferin, tetapi tidak menemukan satu pun protein yang bekerja seperti yang diharapkan.

Sebaliknya, mereka mengatakan bahan yang paling disukai untuk menghambat virus adalah whey, yang mengandung beberapa protein berbeda. ASI mampu menghilangkan virus dalam jenis sel yang lebih luas, tetapi para peneliti mengatakan tidak jelas apa yang menyebabkan perbedaan itu.

Tong Yigang dan koleganya mengatakan mereka belum menemukan tanda-tanda bahaya yang disebabkan oleh ASI, yang “mendorong proliferasi sel” saat membunuh virus. “Penting untuk mengidentifikasi faktor kunci untuk pengembangan obat antivirus lebih lanjut,” ujar mereka menyimpulkan.

Bagaimana dengan Batam? Berdasarkan data, kasus COVID-19 di Kepri sebagian besar terkonsentrasi di Batam. Hingga 27 September, tercatat sebanyak 1.514 kasus di Batam, keseluruhan di Kepri sebanyak 2.135 kasus. Selain jumlah penduduk terbanyak, secara demografis penduduk Batam berusia muda.

Sebaran terbanyak di Kecamatan Batam Kota, sehingga kasus di wilayah itu terbanyak di Batam, jika merujuk karakter penularan COVID-19 lebih tinggi insidensi di daerah padat penduduk. Selain padat, Batam juga terbilang kota berusia muda. Yakni, jumlah penduduk berusia produktif tinggi.

Nah, berdasarkan survei BPS, kelompok usia itu paling mengabaikan bahaya COVID-19, sehingga rentan terjangkit. Kabar baiknya, selain termasuk kota usia produktif, Batam juga memiliki penduduk pasangan usia subur (PUS) banyak, terutama di Kecamatan Sagulung.

Kecuali Galang, 11 kecamatan di Batam terpapar COVID-19. Klaster terbesar masih karyawan swasta, kemudian ibu rumah tangga. Kaum perempuan, pada titik itu, menjadi kunci. Selebihnya, Batam identik sebagai kota dengan keluarga muda, alias keluarga kecil terdiri dari bapak, ibu dan seorang anak!

(*)

Bagikan