Akhir Tahun Banjir Wisman Korea, Ada Kunang-kunang Di Mangrove Pengudang

angkaberita – Akhir tahun lalu, Wisata Mangrove Pengudang di Bintan banjir wisman dari Korea. Mereka datang berombongan, dengan jumlah hampir 100 orang. Targetnya satu, plesiran sekaligus melestarikan alam di Kepri.

“Wisata menanam (mangrove),” ujar Iwan Winarto, Pengelola Wisata Mangrove Pengudang, Kamis (15/1/2026) menyebut paket wisata edukonservasi berupa planting tourism. Selain wisman Korea, juga terdapat wisman lainnya.

Dengan merendah, Iwan buka-bukaan kondisi plesiran di Bintan pada ujung tahun. “Lancar (kunjungan), pelan-pelan,” ucap dia. Tren kunjungan wisman ke Kepri, berdasar data BPS, meningkat di akhir tahun. Kenaikan juga terjadi di tengah tahun, yakni Juli-Agustus.

Saat itu, untuk sebagian, bersamaan dengan libur sekolah di Singapura. Iwan mengaku, wisata kelolaannya menjadi langganan wisman Singapura, khususnya pelajar di sana. Selain atraksi menanam bakau, wisman juga kesengsem dengan wisata kunang-kunang.

Sensasi Pengantar Tidur Pesisir

Bersampan membelah kawasan mangrove, mereka “berburu” satwa penanda terjaganya ekosistem di Pengudang. Kelap-kelip mereka di belantara bakau menjadi sensasi sendiri. Selebihnya, kata Iwan, wisman dapat menyaksikan lebih dekat kehidupan pesisir.

Paketnya, lanjut Iwan, wisman biasanya menikmati sunset dulu. Baru kemudian menyusuri bakau saat pergantian hari selepas pukul 18.30 WIB. “Mulai (jam) 6.30, menikmati sunset dulu,” kata Iwan menyebut waktu pembuka atraksi kunang-kunang.

Meski terdengar cerita mulut ke mulut seputar “kearifan lokal” kuang-kunang, berseraknya hewan nocturnal tadi sejatinya mutualisme dari pilihan atraksi wisata sekitarnya. “Pengudang masih banyak kunang-kunang karena ekosistem masih terjaga, tak terdampak polusi,” kata Iwan.

Penjelasan Iwan tak mengada-ada, riset laman National Geographic mengonfirmasinya. Kunang-kunang hanya muncul di lingkungan sehat, belum tercemar. Selebihnya, kelakar Iwan, kunang-kunang  cerita pengantar tidur anak pesisir.

kunang kunang via nationalgeographic

Di luar dua atraksi tadi, Mangrove Pengudang juga menawarkan sensasi padang lamun dan terumbu karang. Pengelolaannya, Iwan mengaku, berbasis komunitas melibatkan warga sekitar (community based tourism).

Karenanya, pelancong juga dapat merasakan sensasi, semisal membuat kerupuk. Atau, memasak bareng warga, berkebun, atau itenary regenerative tourism lainnya, seperti mengurus sampah dan sebagainya. Dan, Pemprov melalui Dispar Kepri tengah menggeber pariwisata regeneratif tadi, sejenis wisata tanpa meninggalkan jejak karbon.

(*)

Bagikan