Sun. Sep 25th, 2022

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Hoegeng Awards Dan Kisah Kapolri Bikin Maling Kecele!

2 min read

jenderal hoegeng iman santoso, kapolri legendaris di tanah air/foto via fajar.co.id

Hoegeng Awards Dan Kisah Kapolri Bikin Maling Kecele!

angkaberita.id - Nama Kapolri Hoegeng Iman Santoso melegenda di Tanah Air. Sosoknya menjadi gambaran ideal polisi. Kini, melalui Hoegeng Awards, menjadi anugerah ajang menggali polisi inspiratif. Namun, tak banyak publik ketahui keseharian Jenderal Hoegeng, termasuk kisah dirinya bikin seorang pencuri kecele!

Seperti dilansir Sindonews, Hoegeng sosok polisi jujur, sederhana namun berintegritas. Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921, meskipun berstatus Kapolri tak memiliki kekayaan apa-apa. Padahal, selain Kapolri, dia juga pernah menjabat Menteri Iuran Negara.

Namun, status Kapolri agaknya tetap bikin seorang pencuri berkeyakinan Hoegeng berharta banyak. Nah, maling itu lantas masuk dengan meloncat dari tembok belakang rumah. Saat itu, Kapolri Hoegeng tinggal di Jalan Madura, Menteng. Namun, maling tadi kecele, hanya membawa kabur baju dinas penuh tanda kepangkatan.

"Pencuri hanya berhasil membawa baju seragam Kapolri Papi baru dijemur. Waktu itu, (di) baju seragam Papi masih menempel tanda-tanda kepangkatannya, yang baru selesai dibraso oleh Pak Pardi, staf ajudan Papi," kata Aditya Soetanto Hoegeng alias Didit, putra kedua Hoegeng, seperti tertulis dalam buku "Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan" karya Suhartono.

Kata Didit, bukannya marah saat dilapori pencurian, Hoegeng justru tertawa terpingkal-pingkal sembari mengatakan, "Mungkin dikiranya baju itu penuh emas ya, padahal itu cuma logam yang tiap hari digosok." Didit mengungkapkan, meski Kapolri namun keluarga mereka cenderung hidup pas-pasan mengandalkan gaji bulanan dan tunjangan sang ayah.

"Meskipun Papi pernah menjadi menteri dan Kapolri, kami hidup dalam ekonomi pas-pasan. Bahkan, adakalanya kekurangan. Kami hanya punya rumah, itu pun masih disewa dengan membayar uang bulanan," kenang Didit. Sejak berhenti dari Kapolri hingga 2001, pensiun sang ayah sebesar Rp 10.000 per bulan.

"Namun Papi hanya menerima Rp 7.500 setiap bulannya karena dipotong ini-itu. Baru pada tahun 2001, ada perubahan surat keputusan pensiun sehingga pensiun Papi naik menjadi Rp 1.170.000 per bulan. Akan tetapi, setelah Papi meninggal pada tahun 2004, Mami hanya menerima separuhnya karena Mami pensiunan janda Kapolri," ungkap Didit.

Ketika menjabat Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet tahun 1966, Hoegeng pernah punya seorang sekretaris sangat loyal dan mengabdi. Namanya Soedharto Martopoespito, alias Dharto. Menurut Dharto, Hoegeng sewaktu menjabat Menteri Iuran Negara juga tak mau mengumpulkan harta kekayaan bagi keluarga. Keluarga mereka lebih memilih hidup bersahaja.

(*)

Bagikan