Mon. Oct 25th, 2021

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Pernikahan Dini Di Kepri: Batam Tertinggi, Pandemi Tak Risaukan Niat Kawin Muda?

2 min read

kendati turun selama pandemi covid-19 tahun 2020, kasus pernikahan dini di kepri tak bisa diabaikan. batam tercatat paling tinggi kasus pernikahan dini, bahkan lingga dan natuna justru meningkat kasus pernikahan dini selama pandemi/foto via kumparan.com

Pernikahan Dini Di Kepri: Batam Tertinggi, Pandemi Tak Risaukan Niat Kawin Muda?

angkaberita.id – Kendati terjadi penurunan jumlah pernikahan dini di Kepri dalam setahun terakhir, namun masih berat pekerjaan rumah Pemprov Kepri mengurai tingginya remaja perempuan berakhir di pelaminan saat usia belum dewasa.

Kota Batam tercatat paling tinggi jumlah pernikahan dini, meskipun turun signifikan selama pandemi COVID-19 di sepanjang tahun 2020. Namun dibanding kabupaten/kota lain di Kepri, kasus pernikahan dini di Batam masih paling tinggi. Kabupaten Anambas mencatatkan pernikahan dini terendah di Bumi Segantang Lada.

Tahun 2020, selama pandemi COVID-19, kasus pernikahan dini di Batam turun hampir 50 persen dibanding tahun 2019. Dari 299 menjadi 110 perkawinan dini. Namun belum diketahui, apakah penurunan akibat pandemi COVID-19, meskipun jika merujuk data di kabupaten/kota lainnya pandemi justru tidak menghentikan niat menikah di usia muda sekalipun.

Berdasarkan data itu, tahun 2020 mencatat dua daerah justru bertambah kasus pernikahan dini, yakni Kabupaten Lingga dan Kabupaten Natuna. Di awal pandemi COVID-19, dua kabupaten itu memang belum berstatus daerah terjangkit. Kini seluruh kabupaten/kota di Kepri telah mencatatkan kasus COVID-19.

Masih berdasarkan data sama, jumlah remaja perempuan mendominasi mempelai pernikahan dini di Kepri. Batam tercatat paling tinggi. Pemprov Kepri melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) terus memutar akal menyikapi kondisi itu.

Berbagai cara ditempuh demi memastikan pernikahan di Kepri terjadi di usia dewasa sesuai ketentuan UU No. 16 Tahun 2019, yakni laki-laki dan perempuan sama-sama di usia 19 tahun. Hasilnya? Setahun terakhir terjadi penurunan. “Itu data Kemenag Kepri. Kita tidak bekerja sendirian, namun melibatkan banyak pihak,” ungkap Misni, Kepala DP3AP2KB Kepri, melalui pesan WA, Rabu (17/2/2021).

Pernikahan dini, menurutnya, menjadi tanggung jawab dan perhatian bersama pemangku kepentingan di Kepri, termasuk Kemenag. Karenanya, dia mengaku pihaknya melibatkan kalangan dai di Kepri membantu sosialiasi pencegahan pernikahan dini dalam setiap kesempatan, termasuk di khutbah Jumat.

Dengan lembaga dalam naungannya, Misni mengungkapkan, Pemprov Kepri dengan Pemda di Bumi Segantang Lada bahu membahu menggelar kampanye menekan pernikahan muda, bahkan lebih spesifik pernikahan anak. Selain kampanye, pihaknya juga memaksimalkan fungsi Puspaga dan PATBM di Kepri, termasuk Forum Anak di setiap kabupaten dan kota.

“Dengan Kemenag, kita bekerjasama menggandeng para dai, sosialisasi pencegahan pernikahan dini, termasuk pornografi, dengan khutbah Jumat,” ujar Misni. Selain para dai, pihaknya juga menggandeng majelis taklim. Bahkan, pihaknya juga menyasar jauh dengan menggandeng PAUD di Kepri.

“Mengajak para orang tuua mencegah (pernikahan dini) melalui pendekatan pengasuhan dengan tarhet 50 orang per satu guru PAUD,” kata Misni. Begitu juga dengan Puspaga, pihaknya menargetkan setiap konselor dapat pendampingan ke 100 orang, memberikan konselor soal keluarga dan membangun keluarga.

(*)

Bagikan