Mon. Oct 25th, 2021

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

INSIDE BPS: Kepri ‘Provinsi Maskulin’, Tanjungpinang Anomali Bumi Segantang Lada?

2 min read

batam masih menjadi daerah konsentrasi penduduk kepri, termasuk berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2020. jembatan fisabilillah menghubungkan pulau batam dengan pulau rempang menjadi ikon batam sekaligus kepri/foto via id.wikipedia.org

INSIDE BPS: Kepri ‘Provinsi Maskulin’, Tanjungpinang Anomali Bumi Segantang Lada?

angkaberita.id – Selain bertambah jumlah penduduk Lansia, Kepri juga terbilang provinsi berusia muda dengan kelompok usia produktif mendominasi peta demografi. Namun, secara demografi, Kepri terbilang provinsi maskulin dengan penduduk laki-laki lebih banyak dibanding perempuan.

Kecuali, Tanjungpinang, rasio penduduk laki-laki di enam kabupaten/kota di Bumi Segantang Lada dominan sebarannya. Batam masih menjadi konsentrasi penduduk, termasuk mereka berstatus pendatang. Kabupaten Anambas paling sedikit jumlah penduduknya.

Hanya, meskipun masih dalam bonus demografi, Kepri agaknya bukan lagi menjadi tujuan utama perpindahan penduduk di Tanah Air. Terbukti, dibanding periode 2000-2010, laju pertumbuhan penduduk periode 2010-2020 turun sebesar 4,95 persen.

Keseluruhan, berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020, penduduk Kepri tercatat sebanyak 2,064 juta, dan sebagian besar berstatus generasi milenial. Atau, dibanding SP 2010 hanya bertambah kurang dari 400 ribu jiwa.

“Persentase penduduk usia produktif (15-64 tahun) 71 persen, itu berarti Kepri masih dalam masa bonus demografi,” konklusi BPS Kepri dalam rilisnya di laman resminya, Kamis (21/1/2021). Sensus Penduduk 2010, penduduk Kepri di angka 1,68 juta.

Berbeda dengan Sensus Penduduk 2010, karena dalam suasan pandemi COVID-19, SP 2020 memakai data administrasi kependudukan, istilahnya updating data, dengan penambahan sampling sebagai upaya verifikasi sekaligus cek silang.

Kecenderungan Kepri menjadi provinsi maskulin, dengan perspektif Geert Hofstede dalam karyanya Culture’s Consequences (1980), semisal ukuran representasi politik, terkonfirmasi dengan dominannya laki-laki di DPRD di Bumi Segantang Lada.

Bagaimana dengan Tanjungpinang? Berdasarkan SP 2020, menjadi daerah dengan rasio kelamin (sex ratio) penduduk paling kecil, yakni 102. Artinya, terdapat 102 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.

Hasil Pileg 2019 seperti mengonfirmasi tren demografi di Bumi Gurindam, dengan tertinggi representasi perempuan di DPRD, meskipun Kepri di dekade 2000-an saat kejayaan Batam, perempuan pernah mendominasi lanskap demografi. Anomali-kah?

(*)

Bagikan