Wed. Feb 21st, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Ada 4 Tipe Kepala Daerah Saat COVID-19, Termasuk Tipe Cari Aman. Kepri Masuk Mana?

2 min read

setelah dinyatakan positif covid-19 pada akhir juli, Isdianto dinyatakan negatif berdasarkan hasil pcr test kedua meskipun tetap harus menjalani karantina mandiri selama beberapa hari ke depan. sebagai ketua satgas covid-19 kepri, tantangan isdianto kian berat seiring melejitnya kasus covid-19 di kepri hampir dua pekan terakhir di tengah kondisi ekonomi kepri minus 6,6 persen pada kuartal kedua tahun 2020. publik menunggi prioritas kepemimpinannya, kesehatan atau ekonomi?/foto via presmedia.id

Ada 4 Tipe Kepala Daerah Saat COVID-19, Termasuk Tipe Cari Aman. Kepri Masuk Mana?

angkaberita.id – Selain mengawal Inpres penerapan protokol kesehatan di daerah-daerah, Mendagri juga blak-blakan soal tipe kepala daerah selama penanggulangan pandemi COVID-19 di tanah air.

Menurutnya, ada empat tipe kepala daerah, termasuk tipe kepala daerah semata mau cari aman. Mendagri Tito Karnavia mengatakan, dirinya berkesimpulan itu setelah berkunjung ke 16 daerah di tanah air.

Jika dibikin matriks kepemimpinan, terdapat empat kuadran kepala daerah di tanah air selama pandemi COVID-19. Sehingga beberapa terbilang kurang maksimal memimpin penanggulangan pandemi. Selebihnya kepala daerah sekadar menggugurkan kewajiban saja.

Seperti dirangkum detikcom, empat kuadran dimaksud berdasarkan kemauan dan kemampuan para kepala daerah, di antaranya keseriusan, pengetahuan dan strategi penanganan pandemi. Kemudian dukungan fiskal dan kemampuan anggaran daerah bersangkutan. Berikut detailnya:

Pertama, kepala daerah serius menangani pandemi COVID-19 tapi kekurangan strategi dan anggaran pendukung. Sehingga gerak kepala daerah menjadi tidak leluasa karena pertimbangan skala prioritas.

Kedua, memiliki kemampuan, pengetahuan cukup, termasuk dukungan anggaran dan kemampuan fiskal daerah, namun keseriusannya kurang. “Saya nggak mau sebutkan, keseriusannya cari aman, dan itu nggak akan maksimal di daerah itu akan terjadi penyebaran,” sindir Tito.

Ketiga, memiliki pengetahuan konsep dan strategi penanganan pandemi, fiskal daerah juga baik. Namun keseriusan kurang, bahkan terkesan cari aman.

Keempat, dalam istilah Tito sebagai kepala daerah terburuk penanganan pandemi COVID-19, selain tak memiliki strategi dan kemampuan fiskal, juga tak sungguh-sungguh menangani pandemi COVID-19. elain tak memiliki strategi dan kemampuan, juga tak daerahnya tak memiliki kemampuan fiskal.

“Ini pasti akan berantakan daerah itu,” ujarnya menyebut tipe keempat kepala daerah di saat pandemi COVID-19. Tito menilai, seluruh kepala daerah harus bekerja keras, jika mereka kerja keras mesin gerak penanganan pandemi juga akan bekerja maksimal.

Lalu bagaimana Kepri? Berdasarkan peta risiko pandemi COVID-19 hingga 2 Agustus, hanya Karimun terbilang maksimal mempertahankan status daerah risiko rendah, bahkan diperbolehkan membuka persekolahan meskipun tetap memilih sekolah online akibat bertambahnya kasus baru COVID-19.

Sedangkan Bintan dan Tanjungpinang kembali turun kelas ke zona oranye lantaran banyaknya penambahan kasus baru setelah meledaknya klaster Pemprov Kepri, muncul sehabis pelantikan Isdianto menjadi Gubernur Kepri definitif, pada akhir Juli lalu.

Praktis, terdapat tiga zona risiko sedang di Kepri, hanya satu risiko rendah dan selebihnya tak terdampak, yakni Anambas, Lingga dan Natuna. Selain berubahnya peta risiko di Kepri, juga mulai terjangkitnya sejumlah tenaga medis akibat meningkatnya kasus COVID-19.

Sehingga dua rumah sakit di Tanjungpinang terpaksa menutup layanan IGD untuk sementara waktu. Pekerjaan rumah lainnya ialah menjaga ekonomi Kepri tetap bernafas meskipun terkontraksi hingga 6,6 persen pada kuartal II tahun 2020, di saat serapan APBD Kepri belum menembus 50 persen. (*)

Bagikan