Tue. Apr 23rd, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Rasisme Di Amerika Serikat: Gara-gara Nama Mahasiswi, Guru Besar Kampus Kena Skorsing

2 min read

seorang guru besar terpaksa diskorsing lantaran rasis memaksa mahasiwinya mengubah nama aslinya di amerika serikat/foto kampus Laney College via screengrab dari google maps via straitstime.com

Rasisme Di Amerika Serikat: Gara-gara Nama Mahasiswi, Guru Besar Kampus Kena Skorsing

angkaberita.id – Seorang guru besar sebuah perguruan tinggi lokal di Oakland, California di Amerika Serikat, kena sanksi administratif setelah meminta mahasiswinya mengganti namanya lantaran merasa terintimidasi dengan artinya.

Matthew Hubbard, seperti dilansir Straits Times mengutip laporan NYTimes, meminta seorang mahasiswi mengganti nama Vietnam-nya lantaran dia merasa tak nyaman dengan artinya dalam bahasa Inggris. Dosen Jurusan Matematika di Laney College, itu dalam pesan email berkali-kali meminta mahasiswinya, Phuc Bui Diem Nguyen, mengganti namanya.

Namun Phuc menolak permintaan itu, dan menuding permintaan itu seperti diskriminasi. Phuc selanjutnya melaporkan kejadian itu ke penglola sekolah. “Saya memahami anda tersinggung, namun anda juga harus mengerti nama anda juga terdengar menyinggung dalam bahasa saya,” kata Hubbard.

Ketua Laney College, Tammeil Gilkerson turun menangani persoalan itu, dan menganggap kejadian itu merecokinya. Tanpa menyebut nama sang guru besar, dia mengatakan tenaga pengajar bersangkutan telah diskors menunggu hasil pengusutan. “Kami tidak menoleransi rasisme, diskriminasi dan sejenisnya,” tegas Tammeil.

Laney College memiliki 16.000 mahasiswa, 29 persen di antaranya berasal dari Asia. Dalam wawancara dengan televisi setempat, Nguyen mahasiswa baru di kampus itu, mengaku awalnya dia memakai nama alias, May. Namun setelah bertahun-tahun menggunakan nama alias itu, dia ingin menggunakan nama aslinya.

Dia menjelaskan, namanya dalam bahasa Inggris berarti “Semoga Bahagia”. Dia mengaku mendapatkan email pertama permintaan penggantian nama dari guru besarnya saat pekan pertama perkuliahan si profesor. Belakangan, setelah kasus itu menjadi perbincangan umum, sang guru besar meminta maaf melalui akun twitter, dan belakangan telah dihapus. (*)

Bagikan