Fri. Jul 19th, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

COVID-19 di Kepri, Modal Sosial Itu Bernama Keterbukaan Informasi

5 min read

keterbukaan informasi dalam menghadapi pandemi covid-19 bukan saja keniscayaan, namun juga modal sosial membangun kepercayaan publik/foto ilustrasi via onlinewebfonts.com

COVID-19 di Kepri, Modal Sosial Itu Bernama Keterbukaan Informasi

angkaberita.id – Berkaca dari Korea Selatan, keterbukaan informasi agaknya menjadi modal penting memerangi pandemi COVID-19, termasuk di Kepri, dibanding berpolemik perlu tidaknya karantina wilayah.

Selain membantu pemerintah daerah menyusun skenario kebijakan, keterbukaan informasi juga berpotensi mendorong warga setempat mengkarantina secara mandiri, setidaknya bertambah waspada dan bersiap diri.

Apalagi kasus COVID-19 di tanah air terus bertambah setiap harinya. Bahkan, kini tinggal Gorontalo dan NTT provinsi belum terjangkit. Dengan kata lain, 32 dari 34 provinsi di tanah air terjangkit COVID-19.

Pun Sumatera, pertahanannya juga jebol setelah Bengkulu melaporkan satu kasus positif, sehingga kini seluruh 10 provinsi di Negeri Swarna Dwipa terjangkit COVID-19, Sumatera Utara terbanyak kasusnya hingga Selasa (31/3/2020) , yakni 19 kasus.

Soal keterbukaan informasi, tak kurang Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyuarakan itu. Sejumlah daerah, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur, bahkan telah melangkah maju dengan menginformasikan peta sebaran COVID-19 hingga ke level kelurahan. Meskipun belakangan sejumlah daerah di Kepri juga melakukan.

Peta sebaran penting demi langkah mitigasi sehingga upaya memperlambat sebaran virus corona terkonsentrasikan, tanpa harus mengungkap identitas seperti ODP, PDP dan OTG di daerah bersangkutan.

Selain peta sebaran, keterbukaan informasi juga diperlukan mengungkap klaster, sehingga dapat mendorong publik membantu pihak gugus tugas COVID-19 di Kepri menjejak (tracing) potensi sebaran kasus positif berdasarkan riwayat kontak sang pasien COVID-19 terakhir sebelum diisolasi di rumah sakit rujukan.

32 dari 24 provinsi di tanah air terjangkit covid 19, tinggal nusa tenggara timur dan gorontalo belum terjangkit/infografis dari situs resmi gugus tugas covid-19

Di Kepri, Pemkab Karimun selangkah lebih maju dalam soal ini. Sehingga cepat mengantisipasi dengan menyiapkan sekolah sebagai lokasi isolasi ODP. Belakangan Kota Gurindam menyusul setelah Dinkes Tanjungpinang merilis peta sebaran COVID-19 berdasarkan status ODP per kelurahan.

“Peta sebaran ODP per kelurahaan sampai dengan 31 Maret pukul 20.44,” tulis Rustam, Kepala Dinkes Tanjungpinang di grup WhatsApp Jurnalis COVID Kepri, Selasa (31/3/2020), mengklarifikasi beredarnya peta sebaran serupa di media sosial. Apalagi Kepri termasuk berisiko tinggi pandemi COVID-19, dengan statusnsya sebagai pintu gerbang ke jiran terjangkit seperti Singapura dan Malaysia.

Batam dan Tanjungpinang, hingga Selasa (31/3/2020), terbanyak kasusnya, yakni masing-masing tiga kasus, sehingga di Kepri menjadi 7 kasus, satu kasus lainnya di Karimun. Dua pasien di antaranya meninggal akibat COVID-19, keduanya di Batam.

Selain membantu Pemda menyusun skenario antisipasi COVID-19, keterbukaan informasi juga menolong Pemda setempat, semisal Batam dengan kebijakan karantina zonasi, memetakan warga perlu dibantu selama masa karantina mandiri, terutama pekerja sektor informal.

Pemetaan ini juga dapat menolong keterbatasan sumber daya Pemda seperti anggaran agar lebih terukur sasarannya, apabila nanti mengikuti Batam karantina zonasi, tanpa harus menghentikan aktivitas perekonomian lainnya. Apalagi Presiden Jokowi juga sudah menerbitkan payung hukum demi keseragaman kebijakan pemerintah menanggulangi COVID-19.

Kebijakan Pembatasan Sosial Skala Besar sendiri demi menekan laju pandemi COVID-19 menuju puncak kurva seperti diprediksi sejumlah analis melalui sejumlah simulasinya. Tujuan intervensi pemerintah agar kapasitas rumah sakit mampu menangani jumlah pasien.

Dalam kasus Italia dan Spanyol, tingginya CFR alias angka kematian bukan karena buruknya sistem kesehatan publik di sana, Italia bahkan tercatat terbaik di Eropa, namun banyaknya pasien tak tertangani akibat keterbatasan daya dukung rumah sakit berikut tenaga medisnya. Biasanya diukur dengan rasio dokter dan rasio tempat tidur rumah sakit per 1.000 penduduk.

Cerita Kesembuhan

Sejalan pelaksanaan tes massal (rapid test), seperti juga terjadi di Amerika Serikat, kasus infeksi COVID-19 secara statistik angkanya langsung melejit seiring keluarnya hasil tes serologi berbasis antibodi itu, termasuk di Kepri, meskipun belum tentu hasilnya otomatis COVID-19 sebelum keluarnya hasil swab test (PCR) berbasis rantai genetik (RNA) dari lendir tenggorokan pasien.

Berbeda dengan rapid test, swab test perlu beberapa jam guna mengetahui hasilnya. Karena jumlah sampel kiriman banyak, antrean menunggu hasil jadi lama dan panjang. Selain itu, tak bisa dilakukan sembarangan, dan jumlah lembaga atau laboratorium pengetesan juga terbatas di tanah air.

Sedangkan rapid test relatif lebih cepat. Nah, bagi Pemda, itu membantu mereka setidaknya dalam dua urusan, pertama mempercepat proses karantina mandiri suspect atau carrier berdasarkan kontak riwayat dengan pasien positif demi memutus mata rantai penularan, dan kedua menyusun skenario mitigasi zonasi berdasarkan sebaran ODP dan OTG hasil rapid test, terutama mereka dengan hasil tes reaktif.

Di tengah pedihnya kisah kematian akibat COVID-19 di Italia dan Spanyol, sejumlah cerita kesembuhan juga terus mengemuka, termasuk di tanah air. Sebagian kisah itu justru terjadi di pasien usia lansia, kelompok demografi paling berisiko. CNBC Indonesia semisal, mengutip laporan CNN menulis kisah perempuan berusia 102 tahun di Genoa, Italia sembuh dari COVID-19.

Italica Grondona, nama nenek itu seketika dijuluki sebagai ‘highlander’ lantaran sembuh sendiri dan menjadi buah bibir. Kisah serupa juga terdengar di Iran, Korea Selatan dan China. Uniknya, mereka sama-sama berusia di atas 100 tahun, alias centenarian. “Italica mewakili harapan bagi semua lansia yang menghadapi pandemi ini,” ucap Sicbaldi, dokter yang menanganinya.

Italia sendiri termasuk negeri dengan populasi centenarian terbanyak di dunia. Tak hanya orang, kisah ‘kesembuhan’ juga terdengar dari kota-kota terjangkit parah, termasuk Kota Vo di Venezia, Italia. Di sinilah kasus kematian pertama akibat COVID-19 terjadi.

Setelah itu, pemerintah Italia langsung mengkarantina kota berpenduduk 3.000 jiwa ini, dan menerjunkan tim medis termasuk peneliti mengungkap penyebabnya. Serangkaian tes dilakukan, dan akhirnya peneliti sampai pada kesimpulan cara memperlambat pandemi dengan tes, tracing dan isolasi warga begitu terjangkit COVID-19.

Namun rekomendasi itu tak keburu mengejar laju penularan COVID-19 di Lombardia, dengan Bergamo menjadi kota paling parah di Italia. Selain Kota Vo, peneliti juga diturunkan ke tetangga Milan itu. Langkah serupa juga dilakukan di Wuhan di China, Ischgl di Austria, Alsace di Prancis dan Heinsberg di Jerman.

Tujuannya ingin menjadikan temuan nantinya sebagai cetak biru menghadapi kasus epidemi di masa mendatang. Heinsberg, kota berpenduduk 250 ribu jiwa masuk negara bagian North Rhine-Westphalia, kota perbatasan dengan Belanda itu terdapat 1.281 kasus, 34 di antaranya meninggal.

Tak main-main, pemerintah Jerman menjadikannya laboratorium hidup demi mendapatkan cetak biru penanganan pandemi di masa mendatang, dengan menerjunkan ahli virus terbaik, dan menjadikannya lokasi studi klaster kasus COVID-19.

Jumlah pasien sembuh di tanah air juga terus bertambah, meskipun tak sebanding dengan penambahan kasus infeksi baru. Hingga Selasa (31/3/2020) bertambah 6 pasien sembuh, menjadi 81 pasien dari 1.528 kasus sembuh, setara 5,301 persen. Sebanyak 48 di antaranya di Jakarta. Secara global, jumlah pasien sembuh juga terus bertambah, terakhir sebanyak 176.058 pasien dari 837.211 kasus di 202 negara di sekujur dunia. (*)

Bagikan