Mon. Apr 22nd, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Bukan Mobil, Pandemi COVID-19 Paksa General Motors Di Amerika Serikat Bikin Ventilator. Kenapa?

2 min read

akibat kekurangan stok ventilator, rezim trump akhirnya menyerah dan mengaktifkan undang-undang produksi pertahanan yang memungkinkan negara memaksa perusahaan di amerika serikat memproduksi barang di luar inti bisnisnya, namun menjadi kebutuhan utama negara saat kondisi darurat, yakni pandemi covid-19/foto via markhamreview.com

Bukan Mobil, Pandemi COVID-19 Paksa General Motors Di Amerika Serikat Bikin Ventilator. Kenapa?

angkaberita.id – Pandemi COVID-19 bikin Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tak berkutik. Setelah ogah-ogahan mengerahkan sumber daya federal, sebagian berkat lobi perusahaan besar, akhirnya Trump menyerah dan mengaktifkan Undang-undang Produksi Pertahanan.

Dengan perundangan itu, tulis The Guardian, pemerintah dapat memaksa perusahaan-perusahaan di Negeri Paman Sam memproduksi barang di luar bisnis utamanya, namun menjadi kebutuhan utama negara akibat kondisi gawat darurat.

Seiring melejitnya kasus COVID-19 di Amerika Serikat, hingga 28 Maret telah menembus 100.000 kasus infeksi, kebutuhan peralatan medis seperti masker, ventilator dan alat pengaman diri (APD) tenaga medis mendadak melonjak drastis. Presiden Trump mengumumkan kabar itu melalui cuitan di twitternya.

Dengan perundangan itu, pemerintah dapat memaksa General Motors pabrikan kendaraan bermotor di Amerika Serikat memproduksi ventilator secara massal. Selain mahal, ventilator menjadi amunisi utama melawan infeksi COVID-19.

Pemaksaan serupa dapat dilakukan ke perusahaan lainnya seiring langkanya kebutuhan medis penunjang perang melawan COVID-19, yang disebut Trump sebagai pandemi brutal.

seorang dokter membetulkan ventilator ke seorang pasien/foto via themoscowtimes.com

Selain mengaktifkan perundangan itu, Trump juga menandatangani undang-undang dana talangan pandemi COVID-19 senilai 2,2 triliun dolar Amerika atau setara Rp 35.200 triliun, termasuk Rp 16 triliun buat anggaran bantuan langsung tunai (BLT) kepada warga terdampak akibat longsornya perekonomian seiring pagebluk virus corona.

Undang-undang insentif ekonomi itu disetujui Konggres setelah tarik ulur di Senat. Akhirnya kubu Republik kompromi dengan memperbesar dana talangan buat negara bagian, rumah sakit, dan bantuan sosial alias bansos bagi warga terdampak usulan pihak Demokrat.

Sebelumnya, Republik memakai alasan kondisi gawat darurat memaksa Demokrat menerima draft bikinannya tanpa banyak penolakan. Trik itu tak mempan setelah belakangan terungkap perundangan insentif itu ternyata justru banyak menguntungkan kalangan pengusaha, industri dan lobi bisnis yang dikenal sebagai pendukung dana Republik.

Bahkan, Demokrat sebagai tawaran terakhir ke Republik juga menambahkan syarat, selain alokasi bansos dan bantuan ke negara bagian diperbesar, undang-undang juga harus tak menguntungkan segelintir elite politik di Gedung Putih.

Di draft awal, jika disetujui akan banyak dana talangan masuk ke kantong industri tertentu, termasuk jaringan industri Trump. Sedangan negara bagian paling terdampak kasus COVID-19 sebagian besar dikenal sebagai kantong suara Demokrat seperti New York dan California.

mesin ventilator perawatan pernafasan pasien, termasuk pasien covid-19/foto via commondreams.org

(*)

Bagikan