Thu. Apr 25th, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Pilbup Bintan: Duet Awe-Robby Menguat. Deklarator Kosgoro 57 Sentil Politik Dinasti

3 min read

ROBBY PATRIA

Pilbup Bintan: Duet Awe-Robby Menguat. Deklarator Kosgoro 57 Sentil Politik Dinasti

angkaberita.id – Diam-diam langkah Robby Patria, mantan Ketua KPU Tanjungpinang, ikut meramaikan bursa pencalonan Pilbup Bintan 2020 terus menuai dukungan. Setelah sejumlah tokoh masyarakat Tambelan di luar daerah dan jaringan buruh di Bintan, kini dukungan datang dari deklarator Kosgoro 57.

Edy Nusantara menilai Robby Patria sudah layak memimpin Kabupaten Bintan sebagai wakil bupati bersama dengan Alias Wello. “Sebagai dosen, pernah menjadi Ketua KPU Tanjungpinang, mantan aktivis media, lalu sekolah doktor di luar negeri, dia sudah pas berpasangan dengan Alias Wello untuk Bintan lebih baik,” kata Edy di Jakarta dalam rilisnya, Senin (2/3/2020).

Selain deklarator Kosgoro 57, Edy juga dikenal dekat dengan Mas Isman, pahlawan nasional sekaligus pentolan Kosgoro 57. Mas Isman sendiri merupakan ayah Hayono Isman, mantan Menpora di zaman Presiden Soeharto.

Edy juga kader Mas Isman dan sudah makan asam garam perpolitikan di Kepri sebelum hijrah ke Jakarta. Di era tahun 2000-an, dia pernah menjabat Wakil Ketua DPD Golkar Kepri. Mantan politisi senior Golkar itu menyebut, sudah saatnya paradigma kekuasaan berubah, termasuk di Bintan.

Dia menilai kekuasaan terlalu lama berbahaya bagi demokrasi. Secara khusus, dia mengkritisi langkah Ansar mangajukan anaknya bertarung di Pilbup Bintan. Katanya, sepak terjang Ansar di Bintan selama 10 tahun berkuasa, termasuk dengan menjadi wakil bupati di masa Huzrin Hood sudah cukup.

edy nusantara (berkacamata)/dokumentasi pribadi

Kini, menurut Edy, Bintan memerlukan sirkulasi kepemimpinan baru. Di sini, ketika partai-partai di Bintan masih malu-malu mengungkapkan sikap politik, muncul dua calon kandidat kuat, yakni di Alias Wello dan Robby Patria serta Apri Sujadi dan Robby Kurniawan. Nama terakhir merupakan anak Ansar.

Kata Edy, Ansar terlalu berani memajukan anaknya menjadi wakil bupati. Padahal belum memiliki jam terbang di jabatan publik. Langkah Ansar juga disebutnya bakal memacetkan kaderisasi di internal Golkar.

“Ansar dianggap memandang sebelah mata pengurus Golkar Bintan sehingga anaknya yang masih belia tanpa pengalaman diusulkan jadi wakil bupati dari Golkar. Itu sama dengan pemaksaan kehendak agar kekuasaan dia di Bintan tak berakhir,” kata mantan aktivis di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu.

Edy menilai justru lebih fair kalau mendorong kader yang sudah bertungkus lumus membesarkan partai, maju dalam Pilbup Bintan. Sebut saja nama Fiven Sumanti, Sekretaris DPD Golkar Bintan, Hasriawadi ataupun Nesar Ahmad. Nama terakhir, meskipun adik kandung Ansar tapi pernah menjabat Ketua DPRD Bintan.

“Saya hanya bisa berpesan kepada Ansar, yang absolut itu perubahan, bukan lagi kekuasaan,” pesan Edy untuk Ansar. Kalau tetap dilanjutkan, Edy menilai peluang Wello dan Patria justru lebih besar dibanding Apri dan Robby Kurniawan jika kelak kontestasinya seperti ini.

Dia meyakini suara Golkar tidak bulat untuk Robby karena rasa kecewa di internal Golkar. “Saya sudah puluhan tahun di Kosgoro dan Golkar. (Jadi) tahu bagaimana partai ini berkuasa dan kaderisasi mengutamakan proses bukan secara instan,” kata Edy yang dikenal dekat sejumlah elite DPP Golkar sekarang.

Saat ini, Edy juga masih tercatat sebagai anggota Kosgoro di bawah kepemimpinan Agung Laksono, mantan Ketua DPR. Soal peluang Wello-Patria lebih besar, dia bukan tanpa argumentasi. Setidaknya, menurut Edy, Robby Patria memiliki jaringan Kerukunan Keluarga Tambelan di Tanjungpinang dan Bintan.

Kemudian jaringan buruh, dekat dengan media massa dan punya alumni mahasiswa yang pernah diajarnya dan berasal dari Bintan. Selain itu, menurutnya, menguatnya sentimen politik dinasti diyakini bakal berpengaruh ke pemilih di Bintan saat Pilbup mendatang.

“Saya kira pemilih Bintan sangat cerdas untuk tidak memiliki kecenderungan politisi membentuk dinasti di Bintan. Karena orang lain yang tidak berasal dari elit partai tak dapat berkuasa jika model dinasti tak dicegah,” kata Edy. (*)

Bagikan