free page hit counter
Fri. Nov 15th, 2019

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Musim Kabut Asap, Inilah 10 Pemicu Kematian Balita di Dunia. Infeksi Pernafasan Jangan Disepelekan

2 min read
infeksi pernafasan masih menjadi pemicu kematian balita tertinggi di dunia. musim kabut asap belakangan menjadikan balita berisiko tinggi terkena infeksi pernafasan/foto via riaugreen.com

Musim Kabut Asap, Inilah 10 Pemicu Kematian Balita di Dunia. Infeksi Pernafasan Jangan Disepelekan

angkaberita.id – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus terjadi di negeri ini. Selain kondisi udara tak sehat, kabut asap akibat Karhutla juga mendatangkan risiko bagi kesehatan balita.

Serangan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) merupakan gangguan kesehatan paling sering terjadi. Kabar buruknya, ISPA diam-diam menjadi mesin pembunuh di dunia.

Pemerintah melalui Dinas Kesehatan tak bisa berpangku tangan. Para pemangku kepentingan lainnya juga tak bisa mada bodoh dengan kabut asap.

Berdasarkan data Institute for Health Metrics and Evaluation, seperti dilansir Katadata mengutip laporan Ourworldindata.org, terungkap penyebab kematian utama pada anak usia di bawah lima tahun (Balita) ialah infeksi pernafasan, sebanyak 808.920 kasus kematian.

Kemudian, kombinasi gangguan neonatal (bayi baru lahir kurang dari 28 hari) juga menjadi penyebab kematian tertinggi dari balita. Terdiri komplikasi bayi prematur sebanyak 649.439 kematian, asfiksia dan trauma neonatal sebanyak 533.250, serta cacat lahir bawaan sebanyak 501.764 kematian.

Gangguan neonatal lainnya sebanyak 349.002 serta sepsis dan infeksi neonatal sebanyak 203.013. Balita juga sangat rentan terhadap penyakit lainnya, seperti diare, malaria, meningtis, hingga kekurangan gizi.

Kendati tingkat kematian masing-masing negara berbeda, namun secara umum balita merupakan warga negara paling berisiko terhadap gangguan kesehatan, terutama di musim kabut asap.

Memang di negara maju pemicu kematian, semisal di Inggris akibat komplikasi neonatal. Namun, untuk kematian akibat penyakit menular, diare, dan kurang gizi sangat rendah bisa terjadi di negara miskin. Nah, infeksi pernafasan hari-hari belakangan seiring kabut asap seharusnya menjadi prioritas pemerintah daerah bersikap.

(*)

Bagikan