Thu. Apr 25th, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Berkunjung ke Amerika Serikat, Presiden Soekarno Marah Besar di Gedung Putih. Inilah Pemicunya

3 min read

Presiden Soekarno berpidato membakar massa/Foto Intisari.grid.id

angkaberita.id – Presiden Soekarno diceritakan pernah marah besar saat berkunjung ke Gedung Putih, istilah lain kantor Presiden Amerika Serikat. Saat itu, dunia tengah mengalami masa perang dingin yang berpusat antara Amerika Serikat konta Uni Soviet.

Kisahnya bermula saat Soekarno berkunjung ke Negeri Paman Sam. Bung Besar mendapatkan undnagan dari Presiden Presiden Dwight Eisenhower, jenderal angkatan darat dan pahlawan perang dunia kedua versi Amerika Serikat.

Para petinggi AS menilai, Soekarno memiliki peran sangat besar terhadap Indonesia dan kawasan sekitarnya. Mengundang Soekarno merupakan cara AS untuk memengaruhinya.

Perjudian AS

Pada konflik Perang Dingin dengan Uni Soviet, Amerika Serikat menilai membutuhkan kubu yang bisa memperkuat posisinya. Berbagai negara sudah menetapkan posisinya untuk netral, termasuk Indonesia.

Dilansir dari buku Indonesia Melawan Amerika: Konflik Perang Dingin 1953-1963 (2008), karya Baskara T Wardaya situasi politik di Indonesia pada 1955 membuat AS pening.

Sebab, Indonesia berada pada dua kubu yang terdiri dari Sukarno, PNI dan PKI di satu sisi, serta Muhamad Hatta, Masyumi, dan Angkatan Darat di sisi lain. Indonesia dinilai cenderung condong kepada Uni Soviet.

Ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi AS untuk bisa memengaruhi pemikiran Soekarno. Wakil Presiden AS Richard Nixon sempat beradu argumen dengan Menteri Luar Negeri AS John Foster Dulles terkait sistem perpolitikan Indonesia.

Akhirnya, mereka sepakat untuk mengundang Soekarno ke AS dengan berbagai pertimbangan. Menlu Dulles bertolak ke Jakarta dan memberikan undangan secara resmi kepada Soekarno.

Undangan ini disambut Bung Karno dengan antusias. Soekarno marah Pada Rabu 16 Mei 1956, Soekarno bersama dengan rombongannya sampai di Washington DC.

Soekarno menggunakan pesawat pribadi Presiden Eisenhower, “The Columbine”, dalam perjalanannya ke AS. Antusiasme warga AS sangat terlihat.

Pimpinan Indonesia itu mendapat sambutan meriah di berbagai tempat di Amerika Serikat yang dikunjungi. Sayangnya, Soekarno merasa tak diperlakukan dengan baik ketika di White House atau Gedung Putih.

Sistem protokol yang semestinya mempertemukan dengan Eisenhower pada pukul 10.00, mundur setengah jam. Kemarahan memuncak, Soekarno pun mengancam akan meninggalkan Gedung Putih.

Namun, kondisi melunak ketika petugas protokoler Gedung Putih minta maaf. Eisenhower akhirnya keluar dan bertemu langsung dengan Soekarno.

Dalam buku Sukarno: An Autobiography (1966) yang ditulis Cindy Adams, Eisernhower ketika menemui Soekarno di Gedung Putih berupaya meminta maaf atas keterlambatan jadwal pertemuan.

Saat bertemu Eisenhower, Soekarno berusaha menjelaskan psikologi sosial pasca-perang bangsa-bangsa di Asia kepada Eisenhower, terutama melawan penjajah Eropa.

Namun, Eisenhower lebih tertarik berbicara tentang film daripada politik luar negeri AS. Momen inilah yang menjadikan Soekarno dan Eisenhower tak memiliki hubungan baik.

Pidato Soekarno memukau

Saat itu, kunjungan Soekarno di AS tak hanya untuk pertemuan dengan Eisenhower saja. Dia juga diberikan kesempatan untuk berpidato di Kongres AS pada 17 Mei 1956.

Selama 45 menit, Soekarno berkisah tentang revolusi AS yang melawan jerat kolonialisme Inggris, dan menularkan semangat perjuangan negara lain.

New York Times ketika itu menyoroti “Bahasa Inggris (Soekarno) yang jernih dan penuh semangat”. Soekarno juga menyampaikan terima kasihnya atas bantuan AS kepada Indonesia selama ini.

Dia juga menyebut Konferesi Asia-Afrika sebagai pertanda penolakan bangsa-bansa Asia-Afrika terhadap kolonialisme. “Di dunia ini sebenarnya tak ada kelompok orang yang lebih malas mendengarkan pidato daripada Kongres Amerika.

Namun setelah orang itu (Bung Karno) selesai pidato, secara spontan mereka berdiri dan bertepuk tangan karena merasa kagum akan pidatonya,” ucap Asisten Menlu AS Walter Robertson.

Tepuk tangan mengakhiri pidato Soekarno di Kongres AS. Setelah itu, Pemerintah AS mempunyai harapan agar Indonesia condong ke negara Abang Sam (AS) itu ketimbang pengaruh komunisme yang dibawa Uni Soviet.

“Hanya George Washington saja yang pidatonya kepada Kongres lebih bagus daripada Soekarno,” ujar Robertson. (Intisari.grid.id/Kompas.com/Aswab Nanda Prattama)

Bagikan