Tue. Apr 23rd, 2024

angkaberita.id

Situs Berita Generasi Bahagia

Napak Tilas Orang Jawa dan Melayu di Kepulauan Cocos Australia, Tradisi Kerupuk Gendarnya Melegenda

5 min read

Ilustrasi kondisi di Pulau Cocos, Australia/Foto via Intisari.grid.id

angkaberita.id – Sejarah selalu memunculkan kesaksiannya sendiri secara mengejutkan. Termasuk sejarah orang Melayu dan Jawa yang beranak-pinak di Australia, persisnya di Kepulauan Cocos. Begini napak tilasnya!

Di masa pemerintahan kolonial Belanda, banyak budak yang dibawa pihak penjajah ke tempat lain.

Begitu pula dengan Kapten John Clunies-Ross asal Skotlandia yang pada 1814 mengarungi lautan dengan membawa sejumlah budak asal Jawa dan Melayu.

Sampai pada akhirnya perjalanan para pelaut itu berhenti di salah satu pulau penuh pohon kelapa yang luasnya hanya 14 km2. Kapten Clunies-Ross memutuskan untuk berhenti dan membangun kehidupan di sana.

Di tengah kehidupan yang baru, rupanya banyak budak yang masih membawa kebiasaan dan budaya mereka dari Indonesia. Misalnya, sebagai sarana hiburan, mereka membuat hiburan wayang kulit dari bahan kulit ikan hiu dan ikan pari.

Peninggalan semacam ini masih bisa kita lihat di museum di Kepulauan Cocos.

Tradisi kerupuk dari sisa nasi

Cocos terdiri atas dua pulau besar yakni Pulau Home Cocos dan Pulau Barat. Keturunan Jawa dan Melayu umumnya bermukim di Pulau Home Cocos.

Berbeda dengan Pulau Barat yang kebanyakan dihuni orang-orang kulit putih. Menariknya, meski berbeda tempat huniannya, mereka sangatlah sangat rukun.

Kepulauan Cocos sebelumnya dimiliki Kerajaan Inggris hingga kemudian pada 1886 diberikan kepada keluarga Clunies-Ross. Pada 1955, Kepulauan Cocos kemudian berpindah tangan kembali dan menjadi wilayah dari Australia Bagian Barat.

Selain dua pulau besar itu, terdapat juga Pulau Direction yang pernah menjadi saksi dari Perang Dunia I yaitu pertempuran antara Kapal Emden Jerman dengan pasukan Australia.

Perang di pulau ini merupakan pertempuran laut pertama yang dimenangkan Australia. Wilayah Kepulauan Cocos kembali ingin dikuasai pihak luar pada PD II akibat pemberontakan dari pihak Britania sendiri.

Namun pemberontakan berhasil dipadamkan. Setelah perang usai, wilayah ini sempat diberikan kepada Singapura sebelum akhirnya menjadi bagian dari Australia.

Jumlah penduduk Kepulauan Cocos hanya sekitar 500-600 jiwa dengan berpusat di Pulau Home. Rumah-rumah penduduk terpusat menjadi satu dalam sebuah kampung.

Di sana pula terdapat makam para leluhur yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat. Menjelang bulan Ramadan atau saat Idul Fitri, makam tersebut akan ramai dikunjungi masyarakat setempat yang tak lain keturunan mereka.

Tradisi ini tentu mengingatkan kita pada kebiasaan orang-orang Indonesia berziarah kubur menjelang hari raya.

Bahasa Melayu Kalimantan

Masyarakat setempat umumnya memang beragama Islam dan memakai baju muslim.

Hanya saja, orang-orang keturunan Jawa kemudian bercampur juga dengan keturunan Melayu dari Malaysia, hingga pakaian adat mereka juga lebih mirip Melayu.

Pakaian itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pakaian daerah dari Kalimantan Timur. Bahasa Melayu serta bahasa Inggris sehari-hari menjadi bahasa masyarakat setempat.

beberapa warga, bahasa ini sebenarnya tidak sama persis dengan bahasa Melayu Malaysia. Berbeda juga dengan bahasa Indonesia. Pengetahuan berbahasa ini rupanya sangat dipengaruhi saudara-saudara mereka yang tinggal di daerah Sabah dan Serawak di Pulau Kalimantan.

Karena letak Pulau Cocos yang lebih dekat ke Indonesia, maka saluran TV yang mereka tonton sama seperti di Indonesia. Mereka tahu acara-acara dan artis-artis Indonesia dari program-program TV ini.

Saat pesta pun, mereka memiliki kebiasaan menari Poco-poco asal Sulawesi. Menariknya, di Pulau Cocos juga terdapat kain batik yang hanya digunakan saat acara pernikahan. Batik tersebut merupakan peninggalan nenek moyang dan terus dilestarikan.

Hanya saja sekarang mereka kesulitan untuk membuat batik sendiri karena ketiadaan ahli dan peralatan. Kebiasaan dan model rumah penduduk setempat juga masih sama dengan model rumah penduduk di Jawa yang menempatkan dapur di bagian belakang maupun di luar rumah.

Padahal, bentuk bangunannya sudah modern. Dalam memasak, layaknya perempuan Jawa, mereka juga menggunakan berbagai bumbu. Beberapa kebiasaan terkait makanan juga masih sama dengan di Jawa.

Misal, ada tradisi pembuatan karak atau kerupuk dari bahan sisa-sisa nasi. Di Kepulauan Cocos, kebiasaan yang berasal dari Jawa Tengah ini juga masih berjalan turun temurun.

Sebagai pulau yang cukup jauh dari Australia, kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat disuplai dari pesawat terbang yang datang dua kali seminggu dari Perth.

Memang transportasi menuju pulau ini, paling cepat bisa ditempuh dengan pesawat terbang yang datang setiap Selasa dan Sabtu itu. Ada sebuah toko semacam supermarket di Pulau Home serta sebuah lagi di Pulau Barat.

Mata uangnya menggunakan Dollar Australia. Selain itu, warga juga memenuhi kebutuhan makannya dari laut dengan menangkap ikan yang memang berlimpah.

Kehidupan warga setempat juga sama seperti masyarakat umumnya, yaitu bekerja dan bersekolah. Sebagian besar penduduk memang tidak bekerja, tetapi sebagian berkesempatan bekerja

di kantor-kantor milik pemerintah Australia, seperti kantor semacam kelurahan, bank, pemadam kebakaran, bengkel, tukang bangunan, kantor imigrasi, sekolah, rumah sakit, dll.

Terdapat sekolah SD di Pulau Home dan sekolah TK dan SMP di Pulau Barat. Hanya saja, jika para siswa ingin melanjutkan sekolah SMA atau berkuliah, mereka harus pergi ke Perth, Malaysia, atau bahkan Indonesia.

Setelah selesai belajar, penduduk Kepulauan Cocos umumnya akan kembali ke tempat kelahirannya. Beberapa orang memang merantau dan menetap di tempat mereka belajar, tapi selalu tetap akan berkunjung ke Kepulauan Cocos.

Fasilitas kendaraan yang ada di pulau antara lain Mobil Buggy, ATV, serta mobil-mobil biasa namun jumlahnya terbatas. Untuk transporasi antar dua pulau, terdapat dua kapal feri yang berangkat setiap jam.

Masing-masing penduduk juga memiliki perahu motor pribadi untuk memancing atau saat butuh pergi ke pulau lain tanpa ferry.

Pentas tari Jawa

Pulau Cocos ternyata memiliki acara budaya yang unik saat Idul Fitri. Ketika peringatan hari besar keagamaan itu, penduduk akan mengadakan pesta dan perayaan selama dua minggu.

Setiap malam digelar pesta bagi para penduduk mulai dari pesta makan, pentas seni, lomba, dan berbagai acara lain. Acara semacam itu tentu akan mengingatkan kita pada acara serupa menyambut HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus di Tanah Air.

Sebagai penutup, digelar pesta kembang api yang dinyalakan di ujung Pulau sehingga semua orang dapat menikmatinya. Saya kebetulan turut memeriahkan dengan menampilkan serta mengajarkan tari Jawa kepada anak-anak setempat.

Suatu hari ketika saya sedang berjalan dan menikmati sore di pinggir pantai, ada seorang kakek dengan seorang anak mengendarai mobil buggy mendekat ke arah saya.

Mereka menyapa dan memberikan apresiasi tentang penampilan saya di pesta Idul Fitri. Dengan antusias, kakek tersebut mengatakan, nenek moyangnya juga dari Jawa dan dia senang sekali melihat tarian dari tanah leluhurnya itu hadir di pulau ini.

Seakan-akan kakek tersebut bisa mengenang masa kecilnya dengan hanya melihat salah satu tarian dari Jawa yang saya bawakan. Pulau Cocos memang sangat indah dan masih sangat asri dengan airnya yang jernih.

Hanya saja, pulau ini rupanya juga terkena dampak dari sampah-sampah di laut yang kebanyakan berasal dari perairan Cina, Indonesia dan Malaysia. Sampah-sampah yang terbawa arus laut itu memenuhi tepi pantai sebelah utara.

Tepatnya pantai yang menghadap Samudra Hindia. Meski pulau ini milik Australia, namun memiliki ikatan batin tersendiri dengan kita, orang Indonesia. Sebab di sini masih tersimpan segala peninggalan yang sebagian besar berasal dari orang-orang Jawa dan Melayu sebagai nenek moyang mereka.

Sebab di sini masih tersimpan segala peninggalan yang sebagian besar berasal dari orang-orang Jawa dan Melayu sebagai nenek moyang mereka.

Pastinya akan sangat menyenangkan bagi penduduk setempat untuk bertemu dan mengenang kembali tentang asal-usul mereka. (Intisari.grid.id)

Bagikan